Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Setelah Pangdam Brawijaya, Kini Muncul Naruto yang Jadi Prajurit TNI

11/10/2026

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/2026

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Pembatasan Jam Pengisian Solar di Palembang Bikin Resah, Pengamat Soroti Tata Kelola Penyaluran BBM Subsidi
Regional

Pembatasan Jam Pengisian Solar di Palembang Bikin Resah, Pengamat Soroti Tata Kelola Penyaluran BBM Subsidi

Indra PrajaBy Indra Praja26/11/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Ilustrasi SPBU. (Istimewa/net)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID- Kebijakan pembatasan jam pengisian solar bersubsidi di Sumatera Selatan dinilai sebagai indikator lemahnya tata kelola energi dan BBM subsidi di tingkat provinsi.

Ketua AIPI Sumatera Selatan sekaligus Pengamat Kebijakan Politik dan Sosial, Dr (c) Ade Indra Chaniago, M.Si, menilai kebijakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan solar bukan sekadar antrean panjang, tetapi merupakan gejala dari masalah struktural yang sudah berlangsung lama.

Ade mengungkapkan, pembatasan waktu layanan solar melalui surat edaran Gubernur bukan solusi jangka panjang dan justru memperlihatkan kerapuhan sistem pengelolaan kebutuhan energi dasar masyarakat.

Baca juga :   Palembang Kembali Berpotensi Hujan dengan Intensitas Deras Hari Ini

“Kalau kebijakan mendesak seperti ini muncul tiba-tiba, itu tanda ada persoalan manajemen BBM subsidi yang tidak dibenahi dari awal,” ujar Ade dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/11/2025).

Menurutnya, pembatasan waktu pengisian solar menciptakan dampak berantai mulai dari antrean panjang, keterlambatan distribusi barang, hingga penurunan produktivitas sektor transportasi dan logistik. Hal tersebut, kata dia, menandakan proses perencanaan yang tidak komprehensif.

“Solar itu menjadi tulang punggung mobilitas ekonomi. Ketika pasokannya terganggu atau aksesnya dipersempit, efeknya langsung terasa di semua sektor,” tambahnya.

Baca juga :   Diduga Mengantuk, Daihatsu Grandmax Tabrak Pembatas Jalan dan Pohon di Palembang

Ade menilai kebijakan yang berdampak luas seharusnya dirumuskan melalui pendekatan berbasis data, analisis beban kerja sopir, hingga pola konsumsi harian. Namun, kebijakan pembatasan solar justru terasa seperti reaksi spontan terhadap persoalan lapangan.

“Jika masyarakat harus mengantre berjam-jam setiap malam, berarti ada yang salah dalam perhitungannya. Masalah distribusi, pengawasan, dan kuota tidak boleh diselesaikan dengan mempersulit akses rakyat,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa upaya pembenahan BBM subsidi di Sumsel mestinya dimulai dari audit menyeluruh, termasuk memetakan titik kebocoran, pemanfaatan yang tidak tepat sasaran, hingga ketidaksesuaian alokasi.

Baca juga :   Ikuti Instruksi Walikota, Ratusan ASN Dishub Palembang Ikuti Diklat Disiplin dan Peningkatan Kompetensi Teknis

“Kalau kuota tidak sesuai kebutuhan riil, itu harus dihitung ulang. Kalau distribusi tidak terpantau, perkuat pengawasan. Penyelesaian masalah energi tidak bisa hanya dengan membatasi jam operasional SPBU,” katanya.

Ade juga mendorong pemerintah daerah membangun forum dialog dengan sopir, pelaku usaha logistik, akademisi, dan komunitas masyarakat sebelum menetapkan kebijakan lanjutan.

“Energi adalah kebutuhan dasar. Kebijakan harus lahir dari proses partisipatif, bukan dari ruang tertutup,” ujarnya.

Baca juga :   Targetkan Bebas Rabies 2030, Puluhan Hewan di Sumsel Divaksin

Ia menegaskan bahwa pembatasan solar seharusnya menjadi momentum evaluasi besar-besaran tata kelola energi di Sumsel, bukan sekadar aturan sementara.

“Ini saatnya pembenahan sistemik. Jika tata kelola BBM subsidi dibenahi dari hulu ke hilir, rakyat tidak lagi harus menanggung dampak kebijakan yang tidak efektif,” tutupnya. [YIP]

Jam Dibatasi Palembang Pengamat Solar
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticlePoco F8 Ultra dan F8 Pro Resmi Diluncurkan di Indonesia, Usung Teknologi Audio Bose
Next Article Prakiraan Cuaca Hari Ini di Sumsel, Palembang Berpotensi Hujan di Malam Hari
Indra Praja

Related Posts

Regional

Setelah Pangdam Brawijaya, Kini Muncul Naruto yang Jadi Prajurit TNI

11/10/20267 Views
Regional

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/202616 Views
Regional

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/20263 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,989 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,860 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,833 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?