RELUNG.ID – Bencana banjir dan longsor yang melumpuhkan 18 kabupaten/kota di Aceh memaksa pemerintah daerah memasuki fase operasi darurat tanpa henti. Gubernur Aceh Muzakir Manaf menegaskan bahwa penanggulangan bencana kali ini bukan sekadar pemulihan biasa, melainkan perlombaan melawan waktu untuk menyelamatkan ribuan warga yang kini terjebak di wilayah terisolasi.
Dalam Apel Tim Recovery Bencana di Landasan Udara Sultan Iskandar Muda (SIM), Mualem memerintahkan seluruh instansi untuk mengutamakan pembukaan akses darat sebagai prioritas tertinggi.
“Setiap personel harus tahu tugasnya. Buka jalan, buka akses, dan pastikan logistik bergerak tanpa berhenti. Setiap menit yang hilang berarti nyawa bisa tak tertolong,” tegas Mualem, Senin (1/12).
Kondisi di sejumlah kabupaten disebut sangat gawat. Tak sedikit gampong masih terendam banjir dan benar-benar tak dapat dijangkau. Situasi inilah yang mendorong Mualem menyamakan bencana kali ini dengan tragedi tsunami 2004.
“Aceh seperti mengalami tsunami kedua. Jangan ada jeda kemanusiaan — itu perintah saya,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar proses evakuasi dan pembukaan akses tetap memperhatikan keselamatan personel, karena potensi longsor susulan dan arus banjir masih sangat tinggi.
Hingga Minggu malam, total korban tewas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 442 orang, sementara sekitar 400 warga masih hilang. Aceh sendiri mencatat 96 korban jiwa.
Di beberapa titik, terutama Kabupaten Bener Meriah, akses utama benar-benar putus. Banjir bandang menyapu jembatan dan badan jalan sehingga upaya evakuasi hanya bisa dilakukan mengandalkan jalur udara.
Situasi makin genting setelah PLN melaporkan kerusakan berat jaringan transmisi. Sebanyak 12 tower listrik roboh, membuat suplai energi ke beberapa kawasan padam total.
PLN telah mengirimkan 150 personel melalui jalur darat dan menyiapkan helikopter untuk mengangkut material ke lokasi terpencil. Tujuh set tower emergency mulai didistribusikan.
“Kami melihat kerusakan yang masif. Tapi semangat masyarakat Aceh membuat kami yakin pemulihan ini harus dilakukan total,” ujar Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo.
Dua pesawat Hercules TNI AU sudah diterjunkan membawa tower emergency dari Jakarta. Sementara TNI AD dan Polri membuka akses jalan serta mengawal distribusi logistik dan pergerakan tim teknis PLN.
Selain perbaikan jaringan, PLN telah mengirim 220 genset ke titik prioritas, memastikan fasilitas vital seperti rumah sakit dan posko pengungsian tetap bisa beroperasi.
Bantuan sosial juga terus disalurkan, namun akses darat yang terputus membuat distribusi masih terkendala di sejumlah titik.
Dengan area terdampak sangat luas dan cuaca yang belum stabil akibat pengaruh Siklon Tropis Senyar, pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu panjang. Namun Mualem menegaskan bahwa pemerintah akan menjalankan operasi 24 jam.
“Aceh pernah bangkit dari bencana besar. Kali ini pun kita harus bangkit. Jangan tinggalkan satu pun warga tanpa bantuan,” tutupnya.[THQ]

