RELUNG.ID- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap penyebab masuknya kayu-kayu gelondongan ke kawasan permukiman warga di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, usai banjir besar melanda wilayah itu sejak akhir November.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan fenomena tersebut terjadi karena derasnya arus banjir bandang yang menyeret material kayu dari wilayah hulu. Kayu-kayu berukuran besar itu kemudian terbawa hingga ke area permukiman warga saat debit air meningkat tajam.
“Kayu gelondongan besar-besar itu di Tapsel. Saya sudah masuk ke sana, alat berat lokal sudah bekerja,” ujar Suharyanto saat dihubungi, Selasa (2/12/2025).
Menurutnya, kayu-kayu tersebut merupakan material bawaan dari area hutan dan sungai yang meluap akibat curah hujan ekstrem. Arus besar membuat potongan kayu terseret jauh hingga menumpuk di halaman dan bahkan ke dalam rumah warga.
Untuk mengatasi kondisi itu, BNPB menurunkan sejumlah alat berat serta bantuan mesin senso dan pompa alkon. Tim gabungan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga telah diterjunkan untuk mempercepat proses evakuasi.
“Kami minta Kementerian PU juga masuk ke lokasi, termasuk kami bantu mesin senso, pompa alkon,” kata Suharyanto.
Upaya pembersihan kayu disebut terus dilakukan mengingat banyak potongan yang berukuran besar dan berpotensi menghambat akses serta membahayakan warga.
Suharyanto menyampaikan bahwa secara umum banjir di Aceh dan Sumatera mulai berangsur surut setelah empat hari cuaca cerah. Namun, pekerjaan rumah besar masih menanti, terutama terkait akses distribusi bantuan ke daerah-daerah terdampak.
“Mayoritas sudah surut karena empat hari ini cuaca cerah. Hanya infrastruktur yang putus,” jelasnya.
Sejumlah jembatan dan jalan dilaporkan rusak atau terputus akibat banjir dan longsor, sehingga distribusi bantuan makanan, air bersih, dan obat-obatan harus dilakukan dengan metode alternatif di beberapa wilayah.
BNPB mencatat, hingga Senin (1/12) petang, korban meninggal akibat banjir dan longsor di wilayah Sumatera mencapai 604 orang, dengan 464 orang masih hilang dan 2.600 orang terluka.
Total warga terdampak mencapai 1,5 juta orang, sementara 570 ribu warga masih mengungsi.
Adapun kerusakan infrastruktur meliputi 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rusak sedang, dan 20.500 rusak ringan. Sebanyak 271 jembatan dan 282 fasilitas pendidikan juga terdampak.
BNPB menyatakan pihaknya terus memaksimalkan pendistribusian bantuan serta percepatan pemulihan pada wilayah-wilayah yang masih terisolasi.[YKP]

