RELUNG.ID – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan memasuki fase yang semakin menantang.
Selain menghadapi peningkatan titik panas, tim penanggulangan bencana kini harus berhadapan dengan lokasi kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kondisi tersebut mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel memetakan wilayah-wilayah terisolasi yang membutuhkan dukungan pemadaman dari udara.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Iqbal Alisyahbana mengatakan pemetaan dilakukan agar tambahan armada udara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan.
“Termasuk juga kemarin kita sudah berkirim surat ke BNPB untuk penambahan heli. Sekali dengan adanya tambahan diharapkan nanti bisa mempercepat penanganan kebakaran, terutama untuk daerah-daerah yang aksesnya jauh,” ujar Iqbal, Senin (10/8/2026).
Strategi tersebut menjadi semakin penting setelah pemantauan terbaru menunjukkan terdapat 66 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumsel.
Permintaan penambahan armada yang diajukan Pemprov Sumsel mendapat respons dari BNPB. Dua unit helikopter water bombing tambahan disetujui untuk memperkuat operasi pemadaman.
Dengan tambahan tersebut, total armada udara yang disiagakan mencapai sembilan unit, terdiri atas tujuh helikopter water bombing dan dua helikopter patroli.
Menurut Iqbal, penambahan armada bukan sekadar memperbanyak kekuatan pemadaman, tetapi harus diikuti dengan pemetaan lokasi secara tepat. Sebab, karakteristik wilayah Sumsel yang luas membuat sejumlah titik api sulit dijangkau dengan cepat melalui jalur darat.
Karena itu, pemadaman udara akan diarahkan untuk mendukung wilayah yang memiliki kendala akses sekaligus membantu tim darat mencegah api meluas.
Untuk memastikan operasi udara tidak berjalan sendiri, BPBD Sumsel akan menggelar rapat evaluasi bersama seluruh satuan tugas pada Selasa (11/8/2026).
Evaluasi tersebut akan melibatkan Satgas Udara, Satgas Darat, Satgas Sosialisasi, dan Satgas Penegakan Hukum di bawah koordinasi Satgas Operasi.
“Rencananya hari Selasa besok, kita akan rapat gabungan dengan seluruh Satgas yang dikoordinasi sama Satgas Operasi. Di sana nanti kita mengevaluasi dan menerima laporan langkah-langkah apa saja yang sudah dilakukan,” katanya.
Rapat tersebut akan menjadi ruang untuk mengevaluasi efektivitas pemadaman sekaligus menentukan lokasi prioritas berdasarkan laporan dari lapangan.
Selain mengandalkan armada udara, BPBD tetap mengerahkan Satgas Darat di kabupaten dan kota. Pemerintah juga masih memanfaatkan dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari BNPB untuk meningkatkan peluang turunnya hujan.
Namun, dalam dua hari terakhir pertumbuhan awan hujan dilaporkan masih relatif tipis sehingga upaya pemadaman dan pencegahan tetap harus diperkuat dari darat maupun udara.
Ancaman karhutla diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Berdasarkan data BMKG dan pantauan lapangan, fenomena El Nino kategori kuat diproyeksikan bertahan hingga Oktober.
BPBD juga mengingatkan bahwa faktor manusia masih menjadi salah satu penyebab dominan kebakaran berdasarkan hasil pemantauan satelit dan patroli udara.
Karena itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama selama periode puncak kemarau Agustus hingga Oktober.
“Dari pantauan satelit dan patroli udara, memang kebakaran ini sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia. Berdasarkan data BMKG, bulan Agustus sampai Oktober ini puncak musim kemarau dan El Nino sudah termasuk level kuat, jadi kami minta kepada masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” tegas Iqbal. (THQ)

