RELUNG.ID – Indonesia akhirnya naik kelas dalam peta perdagangan durian dunia. Untuk pertama kalinya, durian beku produksi dalam negeri dikirim langsung ke China tanpa perantara, menandai perubahan besar dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi eksportir utama ke pasar premium.
Ekspor perdana ini dilepas Badan Karantina Indonesia (Barantin) pada Senin (15/12/2025) dari Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 48 ton durian beku dengan nilai Rp 5,1 miliar dikapalkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok menuju Qingdao, China.
Langkah ini menjadi titik balik bagi industri durian nasional yang selama bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang negara tetangga. Sebelumnya, durian Indonesia kerap dikirim ke Thailand atau Malaysia untuk kemudian diolah dan diekspor ulang ke China dengan label negara lain.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin), Aditya Pradewo, menilai terbukanya akses langsung ke China sebagai peluang strategis yang dapat mendongkrak devisa negara secara signifikan.
“Permintaan durian di China sangat besar, nilainya sekitar USD 8 miliar per tahun. Kalau Indonesia bisa menguasai 5 sampai 10 persen saja, potensi devisanya bisa mencapai Rp 6,4 triliun hingga Rp 12,8 triliun per tahun,” ujarnya.
Keunggulan Indonesia tidak hanya terletak pada volume produksi, tetapi juga pada keragaman varietas. Durian unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung disebut memiliki karakter rasa yang mampu bersaing dengan produk dari Thailand dan Vietnam.
Selain membuka pasar baru, ekspor langsung ini juga membawa dampak efisiensi yang besar bagi pelaku usaha. Selama ini, pengiriman melalui negara ketiga membuat biaya logistik membengkak. Kini, jalur langsung ke China memangkas ongkos pengiriman hingga ribuan dolar per kontainer.
“Kalau lewat Thailand, biayanya bisa sampai USD 18.000 per kontainer. Sekarang cukup sekitar USD 10.000 sampai USD 11.000. Penghematannya sangat terasa,” kata pelaku usaha durian beku, Muchlido Apriliast.
Di balik keberhasilan ini, proses panjang telah ditempuh hampir dua tahun. Kepala Barantin, Sahat Panggabean, menyebut ekspor perdana ini sebagai hasil diplomasi teknis yang intensif antara pemerintah Indonesia dan otoritas karantina China.
Kesepakatan resmi dicapai setelah penandatanganan Protokol Ekspor Durian Beku Indonesia–China pada Mei 2025. Protokol tersebut mengatur standar ketat mulai dari kebun, proses pembekuan, hingga pengemasan produk.
Plt. Deputi Karantina Tumbuhan Barantin, Drama Panca Putra, menegaskan bahwa aspek mutu dan ketelusuran menjadi kunci utama menjaga kepercayaan pasar China. Produk harus dibekukan pada suhu sangat rendah dan berasal dari kebun serta rumah kemas yang telah tersertifikasi.
Saat ini, delapan rumah pengemasan durian beku telah terdaftar dan memenuhi standar ekspor ke China, mayoritas berada di Sulawesi Tengah.[THQ]

