RELUNG.ID – Petani Karet di Kabupaten Muara Enim keluhkan harga karet di tingkat petani semakin lama semakin merosot, hal itu berdampak pada perekonomian keluarga petani yang kian terpuruk.
Padahal, sebelumnya harga karet Mingguan Rp7 ribu perkilogram turun menjadi Rp6 ribu perkilogram, dan Bulanan Rp10 ribu perkilogram menjadi Rp9 ribu perkilogram.
“Harga karet saat ini Rp6.100 per-Minggu, tidak naik-naik malah semakin turun. Sedangkan harga pupuk dan Sembako naik terus,” jelas salah satu petani karet Sulbahri warga Desa Darmo, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim ini, Kamis (12/1).
Baca Juga: BMKG Prakirakan Curah Hujan di Sumsel Mulai Berkurang, Waspadai Ini!
Menurut Sulbahri, harga karet dalam beberapa bulan terakhir tidak kunjung mengalami kenaikan. Akibatnya, gairah petani karet melesu. Meski menurun, petani tetap menyadap karet, walau hasilnya hanya pas-pasan untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari.
Dikatakan Sulbahri, untuk harga karet Mingguan Rp6.100 per kg, sedangkan harga karet bulanan Rp9.050 per kg. Kalau sebelumnya harga karet Mingguan pernah di atas Rp10 ribu. Belum lagi harga pupuk Herbisida Rp135 ribu per liter, jika merk lain harganya paling murah Rp95 ribu per liter. Dan yang membuat sengsara petani saat ini harga Sembako mulai naik semua sedangkan pendapatan tetap bahkan bisa dikatakan menurun.
“Pada masa pak SBY petani karet cukup bergairah. Harga karet sempat menembus harga Rp20 ribu. Kami berharap harga karet ke depan bisa di atas Rp10 per kilogramnya,”jelasnya.
Baca Juga: Lima Pejalan Kaki di China Tewas Ditabrak Mobil, Pengemudi Lemparkan Uang ke Udara
Sulbahri berharap, harga karet dapat kembali naik seperti masa pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sempat menembus harga Rp20 ribu per kilogram, sehingga antara biaya yang dikeluarkan masih imbang dengan pendapatan yang didapat.
“Saya ada kebun karet 2,5 hektar, namun diupahkan dengan sistem bagihasil 50 : 50. Sebulan hasilnya 2,5 kwintal, kalau dijual dapat Rp2.750.000 biaya produksi Rp500 ribu per hektar total Rp1,5 juta. Jika penghasilan dikurang produksi hanya menerima sekitar Rp 1.250.000. Ini dibagi dua dengan penyadap, jadi kita hanya menerima Rp625 ribu per bulan. Jadi tidak sesuai lagi,” rinci Sulbahri.

