RELUNG.ID- Kasus pendaki meninggal dunia kembali terjadi di kawasan pegunungan Indonesia. Kali ini, tragedi menimpa seorang pendaki muda bernama Syafiq Ridhan Ali Razani (18), asal Magelang, Jawa Tengah, yang ditemukan meninggal dunia setelah 17 hari dinyatakan hilang di Gunung Slamet.
Gunung Slamet yang memiliki ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut (mdpl) dikenal sebagai salah satu gunung dengan jalur pendakian ekstrem. Gunung api tertinggi kedua di Pulau Jawa ini secara administratif berada di lima wilayah kabupaten, yakni Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga.
Syafiq Ali memulai pendakian ke Gunung Slamet bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, pada Sabtu (27/12/2025). Keduanya mendaki melalui basecamp Dipajaya, Pemalang.
Dalam pendakian tersebut, Syafiq diketahui membawa sebuah papan bertuliskan pesan untuk mantan kekasihnya. Papan bertuliskan “HI MANTAN, DAPAT SALAM DARI GUNUNG SLAMET 3428 MDPL” itu sempat digunakan Syafiq untuk berfoto di puncak.
Saat perjalanan turun, Himawan mengalami kram kaki di Pos 5. Melihat kondisi temannya, Syafiq memutuskan turun lebih dulu untuk mencari bantuan dan meminta Himawan menunggu di lokasi tersebut.
Namun hingga malam hari, Syafiq tidak kunjung kembali. Dalam kondisi lemah dan kelelahan, Himawan kemudian memutuskan naik ke Pos 9, yang berada di ketinggian sekitar 3.183 mdpl, atau berjarak sekitar 300–600 meter dari puncak Gunung Slamet.
Himawan akhirnya ditemukan oleh relawan dan dievakuasi ke basecamp Dipajaya pada Senin (29/12/2025). Dari keterangan Himawan inilah diketahui bahwa Syafiq belum kembali sejak berpamitan mencari bantuan.
Sejak saat itu, Syafiq dinyatakan hilang dan operasi pencarian segera dilakukan.
Tim SAR gabungan melakukan pencarian selama sepekan. Namun, hingga Rabu (7/1/2026), Syafiq belum ditemukan sehingga operasi SAR resmi dinyatakan ditutup.
Meski demikian, sejumlah relawan dari basecamp Bambangan Purbalingga dan Baturraden Banyumas melanjutkan pencarian secara mandiri sejak 9 Januari 2026. Pencarian dilakukan atas dasar kemanusiaan dan tanggung jawab moral pengelola jalur pendakian.
Koordinator Basecamp Bambangan, Syaiful Amri, mengatakan pencarian dilakukan dengan mengerahkan tiga Search and Rescue Unit (RSU) sesuai pemetaan dari Basarnas dan diperluas ke jalur Baturraden.
Setelah 17 hari hilang, jasad Syafiq akhirnya ditemukan pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Korban ditemukan di jurang berbatu kawasan Pos 9 Watu Langgar, di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden, tepatnya di lereng puncak selatan Gunung Slamet.
Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, membenarkan penemuan tersebut.
“Sudah ditemukan sekitar pukul 10.00 WIB di bebatuan jurang Kali Lembarang,” ujar Sugeng.
Syafiq ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dievakuasi oleh tim relawan.
Tragedi ini kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko pendakian gunung, terutama bagi pendaki pemula. Faktor cuaca ekstrem, medan berat, kondisi fisik, dan kesiapan mental menjadi hal krusial yang tidak boleh diabaikan.
Kasus Syafiq Ali menambah daftar panjang pendaki yang meninggal dunia di gunung, sekaligus menjadi pelajaran penting tentang pentingnya keselamatan, perencanaan matang, dan kepatuhan terhadap prosedur pendakian.[YKP]

