RELUNG.ID- Kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang melarang organisasi kemasyarakatan (ormas) melakukan sweeping rumah makan selama bulan Ramadan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Dua organisasi Islam besar di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muhammadiyah, menyatakan sepakat dengan langkah tersebut.
Sebelumnya, Pramono menegaskan bahwa menyambut Ramadan harus dilakukan dengan penuh kedamaian dan kerukunan, bukan dengan tindakan yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.
“Saya sebagai gubernur bertanggung jawab untuk itu dan saya tidak mengizinkan untuk ada sweeping,” tegas Pramono.
Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, menilai sweeping rumah makan tidak diperlukan selama pemerintah hadir menjaga kondusivitas. Menurutnya, yang terpenting adalah membangun sikap saling menghormati antarumat beragama.
“Saya rasa tidak perlu ada sweeping-sweepingan karena pemerintah sebelum puasa kita harapkan sudah mensosialisasikan dan memberi pengertian kepada rakyat tentang perlunya ada sikap saling hormat-menghormati agama dan kepercayaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, umat Islam yang menjalankan ibadah puasa tidak perlu khawatir, karena pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan situasi tetap aman dan tertib selama Ramadan.
Senada dengan MUI, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menyatakan larangan sweeping merupakan langkah tepat untuk mencegah potensi konflik di masyarakat.
“Saya kira sudah betul larangan tersebut agar tidak terjadi keributan,” katanya.
Dadang menegaskan, kewenangan untuk membuka atau menutup tempat usaha berada di tangan aparat penegak hukum, bukan ormas. Meski demikian, ia tetap mengimbau masyarakat yang tidak berpuasa agar menghormati umat Islam yang menjalankan ibadah.
Menurutnya, semangat Ramadan seharusnya memperkuat toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk, khususnya di Jakarta.
Sejumlah warga Jakarta juga menyambut baik kebijakan tersebut. Mereka menilai pelarangan sweeping merupakan langkah tepat untuk menjaga kerukunan di ibu kota yang memiliki latar belakang masyarakat beragam.
Beberapa pemilik rumah makan bahkan menyatakan tetap akan menghormati suasana Ramadan dengan cara membuka usaha menjelang waktu berbuka atau menutup sebagian bagian depan warung agar tidak terlalu mencolok.
Dengan dukungan dari tokoh agama dan masyarakat, kebijakan larangan sweeping diharapkan mampu menciptakan suasana Ramadan yang aman, tertib, dan penuh toleransi di Jakarta.[YKP]

