RELUNG.ID – Kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat menandai babak baru hubungan ekonomi kedua negara. Lewat penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington, D.C., Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump menyepakati penyesuaian tarif impor produk Indonesia menjadi 19 persen—turun dari sebelumnya 32 persen.
Penurunan tarif ini terjadi di tengah posisi Amerika Serikat yang menjadi salah satu penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang Januari–Desember 2025, total ekspor Indonesia mencapai USD 282,91 miliar, tumbuh 6,15 persen secara tahunan. Kinerja tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai USD 269,84 miliar atau naik 7,66 persen.
AS menempati posisi strategis sebagai tujuan ekspor nonmigas terbesar kedua setelah China, dengan nilai ekspor mencapai USD 30,96 miliar sepanjang 2025. Bahkan, secara total—migas dan nonmigas—surplus perdagangan Indonesia dengan AS menyentuh USD 18,11 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut Negeri Paman Sam menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia selama 2025.
“Untuk neraca perdagangan total, migas dan nonmigas, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar sebesar USD 18,11 miliar,” ujarnya dalam konferensi pers.
Jika dilihat lebih rinci, surplus nonmigas dengan AS bahkan mencapai USD 21,12 miliar—melampaui India dan Filipina. Surplus tersebut terutama ditopang produk mesin dan perlengkapan elektronik (HS85), pakaian rajutan dan aksesorinya (HS61), serta alas kaki.
Di sisi lain, komoditas global seperti lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15) menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar secara keseluruhan dengan nilai USD 34,06 miliar. Bahan bakar mineral (HS27) menyusul dengan USD 28,01 miliar, diikuti besi dan baja (HS72) sebesar USD 18,44 miliar.
Sementara itu, dari sisi impor, Indonesia mencatat nilai USD 241,86 miliar sepanjang 2025 atau tumbuh 2,83 persen. Impor nonmigas mencapai USD 209,09 miliar. China masih menjadi pemasok utama dengan nilai USD 86,99 miliar, disusul Jepang USD 14,42 miliar, dan AS USD 9,84 miliar.
Penurunan tarif menjadi 19 persen dinilai sebagai hasil kompromi setelah proses negosiasi panjang sepanjang 2025. Pemerintah Indonesia dikabarkan mengirimkan empat surat resmi serta menyetujui sekitar 90 persen proposal yang diajukan dalam perundingan.
Meski tarif sudah lebih rendah dibanding sebelumnya, tantangan tetap membayangi. Struktur ekspor Indonesia ke AS yang bertumpu pada manufaktur berorientasi padat karya seperti tekstil dan alas kaki membuat daya saing harga menjadi faktor krusial. Kenaikan biaya sekecil apa pun berpotensi memengaruhi permintaan.[THQ]

