RELUNG.ID – Gelombang kecaman terhadap serangan militer Amerika Serikat ke Iran turut datang dari Sumatera Selatan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel menilai tindakan tersebut mencederai semangat perdamaian global, terlebih terjadi saat umat Islam sedang menunaikan ibadah suci Ramadan.
Sekretaris MUI Sumsel, Kyai Mahmudin, menyebut serangan itu sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan berpotensi memperkeruh stabilitas kawasan Timur Tengah.
“Kami sangat menyayangkan dan mengutuk keras serangan tersebut. Momentum Ramadan seharusnya menjadi waktu menahan diri, bukan justru memperbesar konflik,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, langkah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dinilai bertolak belakang dengan komitmen perdamaian yang sebelumnya digaungkan, termasuk melalui pembentukan Board of Peace (BOP). Mahmudin menilai forum tersebut kehilangan makna apabila di saat bersamaan aksi militer justru terus dilakukan.
“Kalau memang ingin membangun perdamaian, seharusnya ada konsistensi antara komitmen dan tindakan di lapangan,” tegasnya.
MUI Sumsel juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki amanat konstitusi untuk ikut menjaga ketertiban dunia. Karena itu, mereka mendorong pemerintah pusat meninjau ulang keterlibatan dalam forum internasional yang dianggap tidak lagi sejalan dengan misi perdamaian.
Presiden Prabowo Subianto diminta mempertimbangkan kembali posisi Indonesia dalam BOP bila dinilai tidak mencerminkan tujuan awal pembentukannya.
Selain isu geopolitik, MUI Sumsel turut menyoroti dampak konflik terhadap masyarakat sipil, termasuk jemaah umrah asal Indonesia. Mereka meminta pemerintah memastikan jalur penerbangan tetap aman dan menyiapkan skema perlindungan apabila situasi memburuk.
“Keselamatan jemaah harus menjadi prioritas. Jika kondisi tidak memungkinkan, perlu ada langkah antisipatif, termasuk penempatan di wilayah yang lebih aman,” tambahnya.[THQ]

