RELUNG.ID – Memanasnya konflik di Timur Tengah akibat serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran sempat memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Namun, Otoritas Jasa Keuangan memastikan kondisi pasar modal domestik tetap terkendali dan menunjukkan tanda pemulihan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan terus memantau perkembangan situasi geopolitik serta dampaknya terhadap volatilitas pasar. Pengawasan intensif dilakukan agar setiap kebijakan yang diambil tetap relevan dengan kondisi riil di lapangan.
Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan koordinasi dilakukan secara berkelanjutan bersama Self-Regulatory Organization (SRO), yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), termasuk pelaku industri pasar modal.
“Sehubungan dengan volatilitas pasar di awal Maret 2026 yang dipicu eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, OJK terus memantau pergerakan pasar dan berkoordinasi mengambil langkah kebijakan yang diperlukan,” ujarnya dalam konferensi pers RDKB Februari 2026, Selasa (3/3).
Secara kinerja, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Februari 2026 ditutup di level 8.235,49. Angka ini memang terkoreksi 1,13 persen secara month to date dan turun 4,76 persen secara year to date. Meski demikian, aktivitas perdagangan tetap menunjukkan likuiditas yang solid.
Rata-rata nilai transaksi harian sepanjang Februari tercatat mencapai Rp 25,62 triliun. Bahkan, sejak Agustus 2025, nilai transaksi konsisten berada di atas Rp 20 triliun per hari—indikasi bahwa minat investor masih terjaga meski di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi partisipasi, jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Pada Februari 2026 terdapat tambahan sekitar 1,8 juta investor baru, sehingga total investor domestik kini mencapai 22,88 juta.
Menariknya, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 0,36 triliun pada Februari 2026. Capaian ini berbalik arah dibanding Januari 2026 yang mencatat net sell sebesar Rp 9,888 triliun.
Di tengah dinamika tersebut, industri pengelolaan investasi turut mencatat kinerja positif. Nilai Asset Under Management (AUM) tercatat mencapai Rp 1.115,71 triliun per 26 Februari 2026, tumbuh 1,11 persen secara month to date dan 7 persen secara year to date.
OJK menilai kombinasi likuiditas yang stabil, pertumbuhan investor baru, dan membaiknya aliran dana asing menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pasar modal Indonesia di tengah bayang-bayang konflik global.[THQ]

