RELUNG.ID – Sebuah batu yang diduga merupakan prasastri kuno ditemukan di aliran Sungai Luak, tepatnya di antara Desa Gedung Pakuon dan Desa Bumi Kawa, Kecamatan Lengkiti, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan
Batu yang diduga prasasti tersebut ditemukan warga pada Maret 2026.
Hal ini dibenarkan oleh Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, Wahyu Rizky Andhifani.
Menurut Wahyu, berdasarkan lokasi penemuan dan dugaan awal isi tulisannya, artefak itu sementara dinamai Prasasti Mantra Air Luak.
“Penamaan tersebut bersifat deskriptif karena merujuk pada lokasi penemuan di kawasan Air Luak serta indikasi awal bahwa teksnya berkaitan dengan mantra, rajah, atau ungkapan ritual-protektif,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Wahyu menjelaskan, batu tersebut berbentuk pipih dan diduga telah mengalami pengerjaan secara sengaja, terutama pada bagian permukaan yang tampak dipersiapkan sebagai media tulis.
Secara visual, prasasti memiliki dua sisi utama. Pada sisi A terdapat figur bermahkota trisula yang sementara ditafsirkan sebagai simbol sakral atau representasi dewa.
Menurutnya, figur tersebut memiliki kemiripan dengan ikonografi yang ditemukan pada sejumlah prasasti berbahan logam timah di kawasan Sungai Musi dan pesisir timur Sumatra Selatan.
“Kesamaan itu membuka kemungkinan adanya kesinambungan simbolik dalam tradisi religius masyarakat Sumatra Selatan, baik di wilayah pesisir maupun pedalaman,” katanya.
Sementara pada sisi B, ditemukan inskripsi yang diperkirakan terdiri dari delapan hingga 12 baris tulisan. Berdasarkan pengamatan awal, aksara yang digunakan diduga memiliki kemiripan dengan aksara Proto-Ulu.
Meski isi teks masih dalam tahap pembacaan dan analisis epigrafis, Wahyu menduga tulisan tersebut berkaitan dengan mantra, rajah, atau teks ritual yang bersifat protektif.
Ia menilai temuan ini berpotensi memperkaya data epigrafis di Sumatra Selatan, khususnya terkait perkembangan tradisi tulis masyarakat setelah masa Kedatuan Sriwijaya.
Selain menambah bukti keberlanjutan budaya aksara di kawasan uluan, temuan tersebut juga dinilai membuka ruang penelitian baru mengenai hubungan antara tulisan kuno, simbol sakral, dan praktik ritual masyarakat lokal pada masa pasca-Sriwijaya.
“Prasasti ini penting dikaji lebih lanjut secara epigrafis, ikonografis, dan kontekstual untuk memahami posisi OKU dalam lanskap kebudayaan tulis dan praktik keagamaan kuno di Sumatra Selatan,” tutupnya. (DSK)

