RELUNG.ID – Setelah sempat mengalami koreksi, harga karet di Sumatera Selatan kembali menunjukkan penguatan. Kenaikan harga karet dunia pada perdagangan terbaru menjadi angin segar bagi ribuan petani yang menggantungkan hidup dari komoditas tersebut.
Data pasar menunjukkan harga karet kering (KKK) 100 persen di Sumsel naik menjadi Rp40.283 per kilogram atau bertambah Rp144 dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan menguatnya harga karet di bursa SICOM SGX yang mencapai 227,2 sen dolar AS per kilogram.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel, Rudi Arpian, menilai penguatan tersebut menjadi sinyal positif karena harga masih mampu bertahan di atas level Rp40 ribu per kilogram.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan pasar karet belum kehilangan daya tahan meskipun belum kembali memasuki fase kenaikan yang sangat kuat seperti pada awal Juni lalu.
“Pasar masih menunjukkan respons positif. Tekanan jual mulai berkurang dan minat beli kembali terlihat sehingga harga mampu bergerak naik,” ujarnya.
Bagi petani, bertahannya harga di atas Rp40 ribu menjadi momentum penting setelah dalam beberapa tahun terakhir mereka kerap menghadapi fluktuasi harga yang cukup tajam. Kondisi tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani, terutama di sentra-sentra perkebunan karet Sumsel.
Berdasarkan perhitungan kurs Rp17.730 per dolar AS, harga karet dengan kadar kering 70 persen tercatat sebesar Rp28.198 per kilogram. Sementara KKK 60 persen berada di level Rp24.170 per kilogram, KKK 50 persen Rp20.142 per kilogram, KKK 40 persen Rp16.113 per kilogram, dan KKK 30 persen Rp12.085 per kilogram.
Meski demikian, petani diingatkan agar tidak hanya bergantung pada kenaikan harga pasar. Kualitas bahan olah karet (bokar) tetap menjadi faktor utama yang menentukan nilai jual di tingkat petani.
Rudi menjelaskan, bokar yang bersih dan memiliki kadar karet tinggi akan mendapatkan harga lebih baik dibandingkan produk yang kualitasnya rendah. Karena itu, petani diminta terus memperhatikan proses pengolahan dan penyimpanan hasil sadapan.
“Ketika harga sedang membaik seperti sekarang, petani yang mampu menjaga kualitas akan memperoleh manfaat paling besar,” katanya.
Rebound harga yang terjadi pada awal pekan ini juga memunculkan optimisme baru di kalangan pelaku usaha karet. Jika tren positif berlanjut dan permintaan global tetap stabil, peluang penguatan harga dalam beberapa waktu mendatang masih terbuka.

