RELUNG.ID- Aktivis Iqbal Ramadhan menilai kritik yang disampaikan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, seharusnya direspons melalui dialog, bukan dengan langkah hukum.
Menurut Iqbal, substansi kritik yang disampaikan Tiyo perlu menjadi fokus utama pembahasan publik. Ia menilai polemik yang berkembang justru bergeser pada ucapan kontroversial yang dilontarkan Tiyo, sehingga mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan.
“Alih-alih kita fokus terhadap kritik substansi yang disampaikan oleh Tiyo, kenapa kemudian perhatian bergeser pada ucapan yang kontroversial? Kenapa tidak membahas apa yang sebenarnya ingin disampaikan?” ujar Iqbal dalam program Rakyat Bersuara yang disiarkan iNews, Selasa (23/6/2026).
Iqbal menilai pelaporan terhadap Tiyo berpotensi mengalihkan perhatian publik dari isu yang bersifat kepentingan umum menjadi persoalan yang lebih personal.
Menurut dia, perdebatan yang muncul seharusnya tidak berhenti pada persoalan pilihan kata atau ekspresi yang digunakan, melainkan mengkaji kritik yang menjadi dasar pernyataan tersebut.
“Saya melihat pelaporan ini justru menggeser perhatian publik. Dari yang semula membahas isu publik, menjadi fokus pada persoalan yang bersifat privat,” katanya.
Lebih lanjut, Iqbal mengaku khawatir langkah hukum terhadap Tiyo dapat memicu reaksi negatif dari masyarakat, khususnya kalangan muda yang selama ini aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan politik.
Ia menilai Tiyo memiliki pengaruh di kalangan mahasiswa dan generasi muda sehingga proses hukum terhadapnya berpotensi menimbulkan persepsi bahwa ruang kritik semakin sempit.
“Satu hal yang saya khawatirkan, pelaporan ini bisa memancing kemarahan publik. Tiyo memiliki pengaruh di kalangan anak muda dan mahasiswa,” ujarnya.
Karena itu, Iqbal mendorong agar perbedaan pandangan diselesaikan melalui komunikasi dan dialog terbuka. Menurutnya, pendekatan tersebut lebih konstruktif dibandingkan membawa persoalan ke ranah pidana.
“Alih-alih dipidana, seharusnya dijawab dengan dialog saja,” tegasnya.
Polemik terkait Tiyo Ardianto mencuat setelah pernyataannya yang mengkritik Presiden menuai kontroversi dan berujung pada laporan ke kepolisian. Peristiwa itu memunculkan perdebatan mengenai batas antara kritik dalam demokrasi dan dugaan penghinaan terhadap pejabat negara.
Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian publik dan memicu beragam tanggapan dari kalangan akademisi, aktivis, hingga tokoh masyarakat.[YKP]

