RELUNG.ID — Aborsi atau keguguran yang dilakukan secara sengaja adalah prosedur medis yang dilakukan oleh pasangan karena berbagai alasan, termasuk komplikasi medis yang mengancam nyawa ibu atau bayi, atau karena kehamilan yang tidak direncanakan.
Meski demikian, aborsi memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan, terutama jika dilakukan tanpa pengawasan medis yang memadai.
Metode Aborsi
Terdapat dua metode utama untuk melakukan aborsi:
1. Metode Obat
– Menggunakan dua jenis obat, mifepristone dan misoprostol.
– Mifepristone dikonsumsi terlebih dahulu untuk menghalangi hormon progesteron, yang menyebabkan lapisan rahim menipis.
– Setelah 1-2 hari, misoprostol diminum untuk merusak lapisan rahim, menyebabkan kontraksi, rasa sakit, dan perdarahan yang mengarah pada keguguran.
2. Metode Operasi:
– Aspirasi Vakum : Melibatkan memasukkan tabung ke dalam rahim melalui serviks dan menggunakan alat isap untuk mengeluarkan janin.
– Dilatasi dan Evakuasi (D&E): Menggunakan forsep yang dimasukkan melalui serviks ke dalam rahim untuk mengangkat kehamilan.
Bahaya dan Risiko Aborsi
Aborsi, terutama jika dilakukan oleh tenaga non-profesional atau di tempat dengan fasilitas terbatas, dapat menimbulkan berbagai bahaya bagi kesehatan wanita, antara lain:
1. Komplikasi Medis
– Infeksi Rahim: Bisa terjadi jika prosedur tidak dilakukan dengan steril.
– Aborsi Tidak Tuntas: Beberapa atau semua jaringan kehamilan tidak berhasil dikeluarkan, memerlukan prosedur lanjutan.
– Perdarahan Hebat: Kehilangan darah yang signifikan dapat terjadi.
– Kerusakan pada Rahim atau Serviks: Prosedur yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan fisik.
2. Masalah Kesuburan:
– Meskipun banyak wanita yang menjalani aborsi tetap bisa hamil di kemudian hari, risiko infeksi rahim yang tidak ditangani bisa menyebabkan penyakit radang panggul.
– Penyakit radang panggul dapat menyebar ke saluran telur dan ovarium, mengganggu kesuburan.
3. Masalah pada Kehamilan Berikutnya:
– Infeksi akibat aborsi dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik (sel telur tertanam di luar rahim).
– Aborsi dapat melemahkan serviks, meningkatkan risiko kelahiran prematur.
– Penelitian menunjukkan bahwa aborsi dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur hingga 25-27% pada kehamilan berikutnya.
– Setelah dua atau lebih aborsi, risiko kelahiran prematur bisa meningkat menjadi 51-62%.
– Kelahiran prematur dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan serius bagi bayi, termasuk cerebral palsy, gangguan intelektual, gangguan perkembangan psikologis, dan autisme.

