RELUNG.ID – Terpilihnya Ketua DPRD Sumatera Selatan (Sumsel), Andie Dinialdie, secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumsel periode 2026–2031 dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar menjadi awal baru bagi Golkar menghadapi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumsel 2029.
Kemenangan tanpa lawan itu menunjukkan Golkar sedang solid. Seluruh pemilik suara memberikan dukungan kepada Andie untuk memimpin partai berlambang pohon beringin tersebut lima tahun ke depan. Namun di sisi lain, Musda yang hanya diikuti satu calon juga memunculkan pertanyaan soal ruang demokrasi di internal partai.
Pengamat politik Bagindo Togar menilai aklamasi memang sah menurut mekanisme organisasi. Meski demikian, ia menyebut Musda sejatinya merupakan ruang kontestasi, bukan sekadar forum konsolidasi. “Walaupun menang tidak demokratis, karena sejatinya Musda itu kontestasi demokrasi, bukan konsolidasi demokrasi. Tapi ini ranah internal. Saya melihat Golkar Sumsel ini cuma satu orang peminatnya,” kata Bagindo.
Meski begitu, Bagindo menilai perdebatan soal aklamasi bukan lagi persoalan utama. Yang lebih penting justru apa yang akan dilakukan Andie setelah seluruh kekuatan Golkar berada di belakangnya.
Menurutnya, jabatan Ketua Golkar hanyalah modal awal. Ujian sesungguhnya adalah membuktikan apakah soliditas partai itu mampu mengembalikan Golkar sebagai kekuatan utama di Sumsel atau hanya menjadi modal untuk membangun koalisi dengan partai lain. “Partai Golkar merupakan partai yang paling berpengalaman dan bisa menjadi tolok ukur di Sumsel. Sudah seharusnya dia harus maju dalam kontestasi Pilgub mendatang,” ujarnya.
Bagindo menilai posisi Ketua Golkar memang memberikan modal politik yang besar. Namun modal itu tidak otomatis menjamin kemenangan dalam Pilgub. Apalagi, kapasitas politik Andie masih harus dibuktikan jika dibandingkan dengan sejumlah tokoh senior yang selama ini mewarnai politik Sumatera Selatan.
Karena itu, menurut Bagindo, kepemimpinan Andie tidak boleh berhenti hanya pada keberhasilan menyatukan partai. Ia harus mampu menggerakkan mesin Golkar hingga ke tingkat bawah, memperkuat posisi partai di legislatif maupun pemerintahan, sekaligus meyakinkan kader bahwa Golkar kembali siap memimpin Sumsel.
“Dari segi kapasitas Andie Dinialdie memang masih relatif. Kendati demikian sebagai nahkoda Golkar dia harus mampu memberikan garansi kepada seluruh kadernya jika dirinya akan mampu menguasai legislatif dan pemerintahan,” jelasnya.
Bagindo bahkan menilai jabatan Ketua Golkar seharusnya menjadi batu loncatan untuk bertarung memperebutkan kursi gubernur. “Sebagai konsekuensinya, Andie harus melihat dan mengambil peluang itu bukan hanya sebagai ketua partai,” katanya.
Dua Kekalahan Golkar Jadi Pekerjaan Rumah
Tantangan Andie juga tidak ringan. Dalam dua Pilgub terakhir, Golkar gagal mengantarkan kadernya menjadi Gubernur Sumsel. Kekalahan Dodi Reza Alex Noerdin maupun RA Anita Noeringhati menjadi catatan yang harus dievaluasi kepengurusan baru. “Sudah dua kali Golkar merebut kekuasaan, harus sukses. Dodi Reza Alex kalah dan RA Anita Noeringhati kalah. Dua kontestasi pada Pilgub sebelumnya harus jadi pelajaran,” tegas Bagindo.
Menurutnya, kemenangan dalam Pilgub tidak cukup hanya mengandalkan mesin partai. Golkar juga harus mampu membaca perkembangan politik, memilih figur yang tepat, dan membangun kerja sama politik tanpa kehilangan jati dirinya. Sebab, lawan politik sudah menunggu.
Di tengah mulai menghangatnya bursa Pilgub Sumsel 2029, Bagindo menyebut Ketua DPW PAN Sumsel yang juga Bupati Empat Lawang, Joncik Muhammad, sebagai figur yang paling layak diwaspadai.
Menurutnya, Joncik memiliki pengalaman sebagai aktivis, politisi, dan kepala daerah. Ia juga didukung jaringan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) yang dinilai memiliki pengaruh besar.
“Harus paling diwaspadai Ketua PAN Sumsel yang juga Bupati Empat Lawang, Joncik Muhammad, karena di belakangnya dua jaringan luar biasa, yakni HMI dan Kagama. Keunggulannya pengalaman sebagai aktivis, politisi dan birokrat yang ulung,” ungkapnya.
Selain Joncik, peta persaingan juga diperkirakan akan diwarnai sejumlah nama lain. Bupati OKU Timur dua periode Lanosin mulai disebut sebagai salah satu figur yang berpotensi menjadi kuda hitam. Ada pula Wali Kota Palembang Ratu Dewa yang dinilai berpeluang jika mendapat dukungan tokoh politik tingkat nasional.
Di kubu PDI Perjuangan, dua kader terbaiknya Ketua DPD PDIP Sumsel Devi Suhartoni, Bupati Muratara dua periode dan Bupati Banyuasin dua periode Askolani juga diperkirakan akan ikut meramaikan bursa. Sementara dari Partai Demokrat, nama Wakil Gubernur Sumsel Cik Ujang tentu tidak bisa dipandang sebelah mata.
Golkar Sumsel Punya Dua Pilihan
Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan dan Politik (PSKP), Ade Indra Chaniago, menilai terpilihnya Andie akan memengaruhi arah politik Golkar menjelang Pilgub Sumsel.
Menurut akademisi STISPOL Chandradimuka Palembang itu, Golkar kini memiliki dua pilihan. Pertama, mempersiapkan Andie sejak sekarang sebagai calon gubernur. Kedua, memanfaatkan posisi Ketua Golkar untuk membangun koalisi dengan partai lain.
“Mana yang akan dipilih tentu bergantung pada perkembangan elektabilitas, hasil survei, dan dinamika politik menjelang 2030,” ujarnya.
Ade menilai jabatan Ketua Golkar memberi keuntungan karena Andie memiliki akses terhadap jaringan partai hingga tingkat desa sekaligus ruang yang lebih luas untuk membangun popularitas. “Kalau momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan tidak mungkin elektabilitasnya akan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.
Meski demikian, Ade mengingatkan peta politik Sumsel masih sangat terbuka. “Yang akan terjadi dalam beberapa waktu kedepan adalah fase saling mengukur kekuatan. Semua tokoh akan berlomba membangun citra, memperluas jaringan, dan meningkatkan elektabilitas,” ujarnya.
Ia juga kembali mengingatkan bahwa jabatan Ketua Golkar hanyalah modal awal. “Sebab, publik hari ini semakin rasional. Jabatan ketua partai memang memberikan nilai tambah, tetapi belum tentu otomatis berbanding lurus dengan dukungan pemilih. Yang menentukan tetaplah kinerja politik, kedekatan dengan masyarakat, dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok,” pungkasnya.
Kini bola ada di tangan Andie Dinialdie. Dukungan penuh dari kader Golkar sudah ia kantongi. Yang akan dinilai publik bukan lagi kemampuannya menyatukan partai, melainkan keberaniannya menentukan arah Golkar ke depan.
Apakah Andie akan membawa Golkar kembali percaya diri mengusung kader sendiri untuk bertarung memperebutkan kursi Sumsel 1, atau memilih menjadikan soliditas partai sebagai modal membangun koalisi politik. Lebih parahnya alat tawar politik. Pilihan inilah yang disebut pengamat akan menentukan apakah kepemimpinannya mampu mengembalikan kejayaan Golkar, atau hanya melanjutkan tradisi menjadi bagian dari peta kekuasaan yang dibangun oleh partai lain di Sumsel. (YSF)

