Pemerintah berencana untuk memperkuat hubungan dagang non tradisional dengan beberapa negara. Salah satunya yakni Bangladesh.
Demikian diakui oleh Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Zulkifli Hasan dalam pertemuan dengan Komunitas Bisnis Amerika Serikat (AS)-Bangladesh yang dihadiri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bangladesh-AS serta 30 pelaku bisnis AS-Bangladesh di Queens, New York, AS, Jumat lalu (7/10).
“Banyak hal yang bisa digali dan dikembangkan dalam hubungan perdagangan Indonesia dan Bangladesh. Terlebih, kedua negara memiliki sejumlah kesamaan dan pasar yang besar, yaitu memiliki lebih dari 400 juta penduduk dengan mayoritas muslim,” katanya dikutip dari keterangan resminya, Senin (10/10).
Menurutnya, sejumlah produk Indonesia berpeluang untuk ditingkatkan ekspornya ke Bangladesh. Bahkan, Kemendag menunjukkan komitmennya dalam merealisasikan tujuan tersebut melalui penjajakan perundingan perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Bangladesh. Sehingga, peningkatan nilai transaksi perdagangan melalui penurunan tarif bea masuk dan preferensi perdagangan, serta kemudahan lainnya dapat tercapai.
Meski demikian, berbagai hal yang menjadi kendala dalam hubungan dagang Indonesia dan Bangladesh, diantaranya kemudahan dalam mendapatkan visa/visa bisnis, terbatasnya jumlah penerbangan, serta masih belum intensifnya kedua negara membaca peluang dan keunggulan masing-masing negara.
“Nantinya, sejumlah strategi peningkatan perdagangan Indonesia yang berfokus pada pengembangan produk ekspor potensial ke Bangladesh seperti energi, mesin, teknologi, hingga produk halal Lainnya. Serta mempertahankan produk yang mempunyai pangsa pasar yang kuat di Bangladesh, serta meningkatkan pangsa pasar produk-produk yang harus dipulihkan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, berdasarkan data, nilai perdagangan Indonesia-Bangladesh pada periode Januari—Agustus 2022, tercatat sebesar USD 2,51 miliar atau meningkat 36,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari nilai tersebut, ekspor Indonesia ke Bangladesh sebesar USD 2,44 miliar dengan komoditas ekspor unggulan antara lain minyak sawit, batubara, semen, bubur kayu kimia, dan kapas.
Sedangkan, impor Indonesia dari Bangladesh sebesar USD 68,50 juta. Total nilai perdagangan kedua negara pada 2021 mencatatkan surplus bagi Indonesia sebesar USD 2,82 miliar. Surplus perdagangan diperoleh dari nilai ekspor Indonesia ke Bangladesh sebesar USD 2,92 miliar dan impor Indonesia dari Bangladesh sebesar USD 108,17 juta.

