RELUNG.ID- PT Hutama Karya (Persero) terus mempertegas komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pembangunan infrastruktur Sumber Daya Air (SDA).
Hingga 2025, perusahaan tengah menggarap 42 proyek strategis nasional di bidang SDA, mulai dari bendungan, irigasi, hingga pengendali banjir yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, menyebut pembangunan infrastruktur air menjadi salah satu prioritas perusahaan karena berdampak langsung terhadap produktivitas pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui pembangunan bendungan dan jaringan irigasi, kita tidak hanya bicara soal ketersediaan air untuk pertanian, tetapi juga menjaga ketahanan energi, lingkungan, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Semua ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045,” ujar Adjib dalam keterangan tertulisnya, Senin (18/8/2025).
Dari puluhan proyek SDA yang digarap, Hutama Karya mencatat sejumlah capaian penting. Sebanyak 125 ribu hektare lahan pertanian kini sudah terairi berkat beroperasinya bendungan dan irigasi yang dibangun.
Tak hanya itu, beberapa bendungan juga difungsikan sebagai sumber energi listrik terbarukan berbasis tenaga air (PLTA).
Beberapa proyek strategis yang menjadi sorotan antara lain Bendungan Karalloe di Sulawesi Selatan, Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan, serta pengembangan jaringan irigasi di kawasan food estate Sumatera dan Kalimantan.
Proyek-proyek ini diyakini akan memperkuat ketahanan pangan nasional, mengurangi risiko banjir, serta menjaga ekosistem daerah aliran sungai.
Adjib menegaskan, pembangunan infrastruktur SDA yang digarap Hutama Karya merupakan investasi jangka panjang bangsa.
“Apa yang kita kerjakan hari ini adalah fondasi penting untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Infrastruktur air yang kokoh akan menopang kedaulatan pangan, energi, dan lingkungan,” tegasnya.
Selain mendukung ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur SDA juga berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja lokal, peningkatan ekonomi daerah, serta membuka peluang pengembangan wisata air di sekitar kawasan bendungan.[YKP]

