RELUNG.ID – Banjir di Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, masih belum surut setelah lebih dari seminggu. Ketinggian air mencapai lebih dari satu meter, menyebabkan 10 desa di wilayah tersebut mengalami pemadaman listrik selama delapan hari.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Muratara, Ahmad Yulian, mengungkapkan bahwa selain Rawas Ilir, Kecamatan Karang Dapo juga terdampak banjir. Namun, kondisi di Karang Dapo tidak separah di Rawas Ilir.
“Saat ini yang masih terendam banjir adalah Kecamatan Karang Dapo dan Rawas Ilir. Karang Dapo ketinggian airnya sekitar 30-40 cm dan hanya menggenangi jalan serta halaman rumah. Sementara di Rawas Ilir, air masih setinggi satu meter lebih,” jelas Yulian, Jumat (7/3/2025).
Ia menambahkan, posisi Rawas Ilir yang berada di hilir aliran Sungai Rupit membuat banjir lebih lama surut. Apalagi, curah hujan di wilayah Muratara masih tinggi dalam beberapa hari terakhir.
“Selama hujan masih turun, banjir di Rawas Ilir sulit surut. Kalau curah hujan menurun, mungkin akan berangsur turun, tapi sulit diprediksi,” tambahnya.
Sementara itu, Manajer UP3 PLN Lubuklinggau, Julnansyah Nugroho, mengatakan bahwa pemadaman listrik di Rawas Ilir terpaksa dilakukan demi keselamatan warga.
“Hanya Kecamatan Rawas Ilir yang masih padam listriknya, terutama di Desa Bingin Teluk yang kondisi banjirnya paling tinggi,” kata Julnansyah.
Pihak PLN sempat mencoba menyalakan kembali listrik pada Selasa (4/3/2025), tetapi karena air kembali naik, aliran listrik harus dimatikan lagi.
“Kami sempat menghidupkan listrik, tapi karena banjir kembali naik, kami harus memadamkannya lagi demi keamanan. Jika listrik tetap dinyalakan dalam kondisi banjir, risikonya sangat besar dan bisa membahayakan warga,” jelasnya.
Hingga saat ini, warga Rawas Ilir masih bergantung pada bantuan pemerintah daerah dan relawan. Dengan curah hujan yang masih tinggi, mereka berharap banjir segera surut agar aktivitas kembali normal.[THQ]

