RELUNG.ID – Bank Indonesia (BI) memastikan kesiapan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan militer AS terhadap Iran berpotensi memengaruhi arus modal serta menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Triwahyono, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu pelaku pasar untuk mengalihkan dana ke aset-aset aman atau safe haven seperti dolar AS, obligasi negara maju, dan emas.
“Serangan AS ke Iran telah meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap arah pasar keuangan global,” ujar Triwahyono, Minggu (22/6/2025).
Menurutnya, dalam situasi seperti ini, risiko perpindahan arus modal dari pasar negara berkembang ke aset-aset negara maju semakin besar. Hal ini dapat menambah tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
“Pergeseran arus modal ke safe haven dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi gejolak tersebut, BI telah menyiapkan strategi stabilisasi melalui berbagai instrumen intervensi di pasar keuangan domestik dan global.
“Kami aktif menjaga stabilitas rupiah dengan triple intervention, yaitu di pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kami juga melakukan intervensi NDF (Non-Deliverable Forward) di pasar Asia, Eropa, dan Amerika,” jelas Triwahyono.[THQ]

