RELUNG.ID – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan menghadapi kendala di tengah meningkatnya ancaman kebakaran. Helikopter tambahan yang disiapkan untuk memperkuat operasi pemadaman belum dapat dikerahkan karena mengalami kendala teknis.
Armada udara tambahan tersebut diperkirakan baru tiba di Sumsel pada 27 Agustus 2026. Sementara itu, jumlah titik panas atau hotspot terus meningkat seiring kondisi cuaca yang semakin kering.
Kepala BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan helikopter tambahan masih terkendala dalam proses pengiriman.
“Helikopter tambahan yang direncanakan memperkuat operasi masih mengalami kendala teknis dalam proses pengiriman dan diperkirakan tiba pada 27 Agustus 2026,” kata Iqbal, Sabtu (22/8/2026).
Kondisi ini terjadi ketika jumlah hotspot di Sumsel telah mencapai 600 titik. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya yang tercatat 449 titik.
Meski demikian, Iqbal mengingatkan hotspot tidak dapat langsung diartikan sebagai titik kebakaran.
“Hotspot itu akan terjadi ketika daerah itu yang pertama kering, lalu jadi panas. Namun, titik hotspot belum tentu fire spot,” ujarnya.
Sembari menunggu tambahan armada, BPBD Sumsel masih mengandalkan enam helikopter water bombing dan dua helikopter patroli untuk mendukung operasi penanganan karhutla.
Operasi udara tersebut diperkuat dengan penanganan darat, patroli di kawasan rawan, sosialisasi kepada masyarakat serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.
“Kita selalu melakukan penguatan, baik itu darat, udara maupun satgas-satgas yang lain. Ada penegakan hukum, satgas sosialisasi, malah satgas doa juga diperkuat,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal, kebutuhan tambahan armada semakin mendesak karena kondisi cuaca Sumsel terus mengering. Fenomena El Nino yang telah memasuki fase sangat kuat turut meningkatkan potensi munculnya titik panas.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah kembali menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai Sabtu. Operasi ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari dengan memanfaatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Sumsel.
Tak hanya siang hari, pelaksanaan OMC kini diperluas hingga malam. Penyemaian awan akan dilakukan kapan pun terdapat potensi awan yang memungkinkan untuk disemai.
“Mulai hari ini kalau bisa siang, siang. Kalau bisa malam, malam, yang mana ada potensi awan akan dilakukan OMC,” jelas Iqbal. (THQ)

