RELUNG.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan semakin serius. Di tengah kemarau yang makin kering, jumlah titik panas atau hotspot di Sumsel melonjak hingga 600 titik pada Sabtu (22/8/2026).
Kondisi tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel kembali memperkuat upaya pencegahan karhutla. Salah satunya dengan kembali menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama lima hari.
Kepala BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan, peningkatan hotspot berkaitan erat dengan kondisi cuaca yang semakin kering akibat fenomena El Nino yang kini berada pada level sangat kuat.
“Analisisnya yang pertama karena pengaruh cuaca. Ini kan El Nino kita sudah masuk di fase level sangat kuat, jadi otomatis kekeringan,” kata Iqbal, Sabtu (22/8/2026).
Meski demikian, Iqbal meminta masyarakat tidak langsung mengartikan 600 hotspot sebagai 600 titik kebakaran. Hotspot merupakan indikasi panas yang terdeteksi melalui pemantauan, sedangkan fire spot menunjukkan lokasi yang benar-benar mengalami kebakaran.
“Hotspot itu akan terjadi ketika daerah itu yang pertama kering, lalu jadi panas. Namun, titik hotspot belum tentu fire spot,” ujarnya.
Untuk menekan risiko kebakaran, BPBD Sumsel kembali memperoleh dukungan OMC mulai Sabtu. Operasi ini memanfaatkan pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan hujan di sejumlah wilayah.
“Kita hari ini dapat OMC lagi karena kita sampaikan ada potensi awan hujan. Jadi kita hari ini ada ini, sambil menunggu seberapa besar awan hujan itu untuk bisa disemai,” jelasnya.
Yang berbeda, pelaksanaan OMC kali ini tidak terpaku pada waktu siang. Penyemaian awan dapat dilakukan hingga malam hari selama terdapat potensi awan yang bisa disemai.
“Mulai hari ini kalau bisa siang, siang. Kalau bisa malam, malam, yang mana ada potensi awan akan dilakukan OMC,” katanya.
Perubahan pola tersebut dilakukan untuk memperbesar peluang hujan turun di tengah kondisi kemarau yang semakin ekstrem.
Namun, BPBD tidak hanya mengandalkan rekayasa cuaca. Penanganan karhutla di lapangan tetap dilakukan secara simultan melalui operasi darat dan udara.
Saat ini terdapat enam helikopter water bombing dan dua helikopter patroli yang dikerahkan untuk memperkuat penanganan karhutla di Sumsel. Sementara satu helikopter tambahan masih dalam proses pengiriman karena mengalami kendala teknis dan diperkirakan tiba pada 27 Agustus 2026.
“Penanganan terus kita perkuat, baik itu darat, udara maupun satgas-satgas yang lain,” ujar Iqbal.
Selain pemadaman dan pencegahan, BPBD juga memperkuat satgas penegakan hukum serta sosialisasi kepada masyarakat. Pendekatan lain juga dilakukan melalui satgas doa sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi musim kering yang panjang.
Dengan hotspot yang terus bertambah, masyarakat diminta tidak lengah. BPBD mengingatkan warga, khususnya di wilayah rawan, untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar serta berhati-hati ketika menggunakan api di tengah kondisi yang sangat kering,” pungkasnya. (THQ)

