RELUNG.ID – Seminar Nasional Belantara Learning Series (BLS) Episode 12 tak hanya menjadi ajang diskusi soal sampah, tapi juga panggung kolaborasi antara akademisi, komunitas, hingga pelaku usaha untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Bertempat di Universitas Pakuan, seminar ini menggandeng empat perguruan tinggi dan dua bank sampah sebagai motor penggerak edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan yang digelar Belantara Foundation bersama Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan itu mengangkat tema “Pengelolaan Sampah Berkelanjutan untuk Mendukung Ekonomi Sirkular, Mitigasi Perubahan Iklim dan Kesejahteraan Masyarakat”, dan diikuti lebih dari 1.100 peserta secara hybrid. Di balik data tumpukan sampah nasional yang kian memprihatinkan, seminar ini menegaskan bahwa solusi tak bisa hanya datang dari pemerintah, melainkan harus digerakkan dari ruang kelas dan komunitas akar rumput.
“Kampus harus menjadi pusat perubahan. Edukasi, riset, dan aksi nyata harus menyatu,” kata Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer.pol. Ir. Didik Notosudjono. Ia menekankan perlunya kemitraan antara sektor akademik, pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang holistik.
Empat universitas—Universitas Pakuan, Universitas Riau, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Tanjungpura—ikut menyelenggarakan sesi “Nonton dan Belajar Bareng” untuk menggaet mahasiswa dan dosen agar terlibat langsung dalam gerakan pengelolaan sampah. Kolaborasi ini membuktikan bahwa edukasi lingkungan bisa disebar secara masif lewat kerja sama lintas kampus.
Sementara itu, dua bank sampah—Bank Sampah Digital dan Bank Sampah Induk New Normal—menjadi contoh konkret bagaimana komunitas bisa mengubah paradigma masyarakat soal sampah. CEO Bank Sampah Digital, Desty Eka Putri Sari, menyebut bahwa masih banyak orang memandang sampah sebagai beban, bukan peluang. “Padahal, dengan sistem yang tepat, sampah bisa jadi penghasilan dan alat edukasi lingkungan,” katanya.
Ketua Bank Sampah Induk New Normal, Yasra Al-Fariza, memaparkan berbagai inisiatif edukatif, mulai dari daur ulang, pelatihan kerajinan tangan dari sampah, hingga budidaya maggot. “Kami ingin masyarakat melihat bahwa mereka bisa jadi bagian dari solusi,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Direktur Pengurangan Sampah KLHK, Agus Rusly, menegaskan bahwa masyarakat harus dilibatkan sejak tahap paling awal pengelolaan sampah. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem formal. Masyarakat, terutama generasi muda, harus menjadi pelaku utama ekonomi sirkular,” tegasnya. (KPB)

