RELUNG.ID – Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, memberikan tanggapan atas kericuhan yang terjadi di Lapas Narkotika Kelas II A Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas. Insiden tersebut diduga dipicu oleh razia telepon seluler (HP) di dalam lapas.
“Saya memonitor melalui jalur informal, termasuk media sosial dan berita. Informasinya, kericuhan ini berawal dari razia HP. Padahal, HP memang seharusnya tidak boleh ada sejak awal di lapas,” ujar Deru, Jumat (10/5).
Ia juga menyoroti masalah overkapasitas di lapas Sumsel yang mencapai 200% secara keseluruhan sebagai salah satu faktor yang membuat penanganan kericuhan semakin sulit. Gubernur berjanji akan membawa persoalan ini ke ke Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimpas) atau Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS).
“Sebagai wakil pemerintah pusat, saya akan menyampaikan langsung isu overkapasitas ini ke kementerian terkait,” tegasnya.
Selain itu, Deru meminta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sumsel untuk menganalisis jenis-jenis pelanggaran yang paling sering terjadi sehingga menyebabkan lapas penuh sesak. Menurutnya, pemetaan ini penting untuk memahami akar masalah.
“Yang paling penting adalah mencari tahu penyebab utama overkapasitas. Jangan hanya menyalahkan fasilitas gedung, tapi lihat kenapa masyarakat banyak melanggar hukum. Apakah lebih banyak karena kasus narkoba atau tindak pidana lainnya?” paparnya.
Gubernur juga menekankan pentingnya penanganan sumber daya manusia (SDM) masyarakat untuk mencegah pelanggaran hukum di masa depan.
“Jika kita tahu pelanggaran apa yang dominan, maka langkah pencegahan bisa lebih fokus,” tambahnya.[THQ]

