RELUNG.ID — Air menjadi bagian penting dalam perjalanan Zalvira Anggraeni menuju barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Sumatera Selatan.
Siswi SMA Xaverius Lubuklinggau itu telah bertahun-tahun menempa diri sebagai atlet renang sebelum akhirnya mendapat kesempatan menjadi bagian dari pasukan yang akan mengibarkan Sang Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Griya Agung Palembang.
Bagi Zalvira, kemampuan fisik yang terbentuk dari latihan renang bukan sekadar prestasi olahraga. Kebiasaan berlatih, menjaga stamina, dan disiplin menjadi modal ketika ia harus melewati proses seleksi hingga menjalani latihan intensif sebagai Paskibraka.
Gadis 16 tahun tersebut mengenal renang sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Berawal dari kegemarannya bermain air, orang tuanya kemudian memasukkannya ke tempat les renang ketika Zalvira duduk di kelas tiga SD.
“Saya suka renang karena waktu kecil suka main air. Kemudian saya ikut les renang sejak kelas 3 SD,” kata Zalvira saat ditemui di Griya Agung Palembang, Kamis (13/8/2026).
Kegemarannya itu kemudian berkembang menjadi keseriusan. Sejak SMP, Zalvira mulai mengikuti berbagai perlombaan dan mengukir sejumlah prestasi.
Ia pernah meraih juara tiga renang pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), juara satu renang tingkat Sumatera di Curup, serta juara tiga Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Selain renang, ia juga sempat menekuni bulu tangkis.
Perjalanan sebagai atlet sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda. Namun, Zalvira kembali ke kolam renang dan serius berlatih ketika duduk di kelas tiga SMP.
Dari sana, rutinitas olahraga membentuk kebiasaannya untuk disiplin menjaga kondisi tubuh.
Kebiasaan tersebut kemudian kembali diuji ketika ia mengikuti rangkaian seleksi Paskibraka. Bukan hanya kemampuan baris-berbaris, kondisi fisik juga menjadi bagian penting yang harus dipersiapkan.
Bagi Zalvira, pengalaman sebagai atlet membuatnya lebih terbiasa menghadapi latihan fisik. Ia juga memahami pentingnya pemanasan sebelum beraktivitas agar tubuh tidak mengalami cedera.
“Menjaga fisik itu penting. Biasanya saya melakukan pemanasan supaya otot tidak kaget dan selalu berusaha berpikir positif,” ujarnya.
Namun, menjadi Paskibraka ternyata menghadirkan tantangan yang berbeda dari latihan sebagai atlet.
Selama menjalani latihan dan karantina, Zalvira harus meninggalkan sejumlah kebiasaan sehari-hari. Jam tidur, waktu bangun, pola makan hingga aktivitas fisik semuanya diatur.
Dua pekan pertama menjadi masa yang cukup berat baginya. Ia mengaku masih kesulitan menyesuaikan diri dengan rutinitas baru.
“Awalnya kami belum bisa menyesuaikan jam tidur dan suasananya. Lama-kelamaan terbiasa karena harus bangun pagi, makan diatur, dan fisik juga harus dijaga,” katanya.
Perlahan, Zalvira mulai terbiasa. Latihan yang ketat justru membuatnya semakin memahami bahwa tugas sebagai Paskibraka membutuhkan kesiapan fisik sekaligus mental.
Kini, perjuangan tersebut membawanya ke Griya Agung. Ia akan menjadi bagian dari pasukan yang menjalankan tugas penting dalam upacara peringatan kemerdekaan.
Bagi Zalvira, kesempatan tersebut bukan sekadar hasil dari proses seleksi. Ada mimpi yang telah ia simpan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Ini kesempatan sekali seumur hidup dan juga mimpi saya sejak SD. Alhamdulillah, akhirnya saya diterima di Paskibraka ini,” tutupnya. (THQ)

