RELUNG.ID – Harga plastik di Indonesia mengalami kenaikan signifikan akibat terganggunya pasokan bahan baku dari luar negeri, terutama imbas konflik yang terjadi di Iran. Ketergantungan impor yang tinggi membuat kenaikan harga tak bisa dihindari, karena sekitar 60 persen bahan baku plastik, termasuk naphta, masih didatangkan dari Timur Tengah.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mencatat impor plastik dan barang dari plastik pada Februari 2026 mencapai USD 873,2 juta. Plastik menjadi salah satu komoditas impor nonmigas yang menyumbang defisit terbesar pada neraca perdagangan Januari–Februari 2026, yakni sebesar USD 1,39 miliar.
“Mayoritas impor plastik berasal dari China senilai USD 380,1 juta, diikuti Thailand USD 82,7 juta, dan Korea Selatan USD 66,7 juta. Ateng menambahkan, komoditas impor terbesar masih didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis senilai USD 3,74 miliar, serta mesin dan perlengkapan elektrik senilai USD 2,74 miliar,”kata dia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut gangguan ini tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga negara-negara Asia lain seperti Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand, di mana beberapa produsen bahkan mengumumkan kondisi force majeure.
“Kita terdampak karena bahan baku plastik, salah satunya naphta, sebagian besar kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi.
Untuk mengurangi ketergantungan, pemerintah mulai menjajaki alternatif pasokan dari Afrika, India, dan Amerika. Meski begitu, proses peralihan membutuhkan waktu karena harus menyesuaikan rantai distribusi dan kapasitas produksi.[THQ]

