Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengkaji kesiapan energi terbarukan dan nuklir. Hal ini guna percepatan net zero emission.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Dr Mego Pinandito mengatakan bahwa bincang pembangunan kali ini bertujuan untuk melakukan diskusi dengan pakar yang berkaitan kesiapan dan pemanfaatan potensi energi terbarukan dan nuklir dalam mendukung pembangunan dan memajukan bangsa.
“Diskusi ini juga mencari langkah dan strategi yang tepat dalam memanfaatkan energi terbarukan dan nuklir untuk mendukung pencapaian net-zero emission yang dapat menunjang dan berperan dalam pembangunan nasional,” katanya, Senin (24/10).
Secara garis besar, DKP menginisiasi Seri Bincang Pembangunan untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru dalam konteks kebijakan strategis terkait isu-isu saat ini. Tema yang diangkat kali ini didasarkan pada upaya atau komitmen Indonesia untuk menangani isu perubahan iklim.
Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement melalui UU No. 16 Tahun 2016, yang artinya Indonesia ikut serta untuk menahan kenaikan suhu global sebesar 2oC dan berupaya lebih jauh untuk membatasinya hingga 1,5oC di atas era pra-industri.
Dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), Indonesia menargetkan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 31,89 persen, dengan upaya sendiri hingga 43,20 persen dengan bantuan internasional pada tahun 2030. Selain itu, pada Conference of the Parties ke-26 (COP-26), Indonesia menargetkan pencapaian Net-Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Sektor energi merupakan salah satu sektor penyumbang emisi GRK terbesar di Indonesia. Kontribusi tersebut disebabkan oleh tingginya penggunaan energi fosil terutama pada aktivitas produksi listrik dan panas, transportasi, serta industri manufaktur dan kegiatan konstruksi. Transisi energi dengan beralih dari penggunaan energi fosil menuju energi baru terbarukan dapat menjadi solusi untuk mengurangi tingkat emisi tersebut.
Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan berupa panas bumi, surya, angin, air, bioenergi, arus laut, dan nuklir yang pada tahun 2021 hanya berkontribusi pada 12,16 persen bauran energi nasional. Untuk mencapai target-target iklim di atas, maka perlu upaya percepatan transisi energi. Mego juga menyampaikan faktor penentu keberhasilan transisi energi untuk mendukung pencapaian NZE, diantaranya: Kebijakan dan Regulasi, Teknologi, Investasi dan Insentif, serta Kolaborasi.
Melalui Bincang Pembangunan Seri VIII ini, Mego berharap para peserta mendapatkan insight dari para pakar melalui diskusi, pertukaran informasi dan gagasan terkait kesiapan energi terbarukan dan nuklir dari perspektif kebijakan dan regulasi, riset-inovasi teknologi, dan tren di negara-negara ASEAN.
“Kami mengharapkan perolehan masukan dan pemikiran untuk penyusunan rekomendasi kebijakan pada sektor energi nasional, khususnya terkait pengembangan energi terbarukan dan nuklir dalam mendukung pencapaian NZE,” tutupnya.

