RELUNG.ID – Hujan yang sempat mengguyur sejumlah wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel) belum mampu mengakhiri ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 1.505 titik panas atau hotspot masih terdeteksi di wilayah Sumsel berdasarkan data Sipongi per Minggu (27/9/2026) pukul 05.00 WIB.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi. Dalam 24 jam terakhir, tercatat 1.014 titik panas dengan 74 kejadian karhutla.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di OKI menjadi perhatian utama karena sebagian besar lokasi kebakaran berada di kawasan gambut. Karakteristik lahan tersebut membuat api sulit dipadamkan dan berpotensi kembali muncul meski sebelumnya telah dilakukan pemadaman.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan kondisi karhutla di sejumlah wilayah masih fluktuatif. Asap juga masih terdeteksi dan dirasakan masyarakat, terutama di Kota Palembang.
“Secara umum kondisi kejadian karhutla di Sumsel bersifat fluktuatif dan asap terdeteksi serta dirasakan di beberapa wilayah, terutama di Kota Palembang,” ujar Sudirman, Minggu (27/9/2026).
Menurut Sudirman, penanganan paling intensif saat ini dilakukan di sejumlah wilayah OKI. Rendahnya jarak pandang menjadi salah satu kendala dalam operasi pemadaman melalui udara.
Helikopter water bombing tidak dapat bekerja maksimal ketika jarak pandang rendah. Di sisi lain, petugas pemadam di darat juga menghadapi keterbatasan sumber air dan sulitnya akses menuju lokasi kebakaran.
“Rendahnya jarak pandang di wilayah OKI menghambat proses pemadaman menggunakan helikopter water bombing. Selain itu, ketersediaan sumber air yang terbatas dan akses menuju lokasi kebakaran yang sulit menghambat petugas pemadaman darat dalam melaksanakan pemadaman,” katanya.
Sejumlah lokasi yang menjadi fokus penanganan antara lain Kecamatan Tulung Selapan, Pangkalan Lampam, Pampangan, Tanjung Lubuk, Pedamaran Timur, Air Sugihan, Cengal, dan Sungai Menang.
“Satgas gabungan dikerahkan untuk mencegah api meluas sekaligus menekan dampak asap yang menyelimuti sejumlah wilayah,”kata dia.
BPBD Sumsel mencatat total luas lahan yang terbakar dalam penanganan tersebut mencapai sekitar 290,26 hektare. Dari luasan itu, masih terdapat sekitar 68,7 hektare lahan yang belum berhasil dipadamkan.
Upaya penanganan dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari patroli darat dan udara, pemadaman langsung, water bombing, operasi modifikasi cuaca (OMC), pemantauan hotspot hingga sosialisasi pencegahan karhutla.
“Namun, kondisi atmosfer turut menjadi tantangan. Pelaksanaan OMC belum dapat dilanjutkan karena ketersediaan awan konvektif yang potensial untuk penyemaian masih minim,”kata dia.
Di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, jarak pandang pada pukul 05.30 WIB tercatat hanya sekitar 900 meter dengan kondisi berasap.
Dampak karhutla juga terlihat dari kualitas udara. Data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel pada Minggu (27/9/2026) pukul 06.00 WIB menunjukkan kualitas udara Palembang berada pada kategori berbahaya atau level hitam.
Konsentrasi PM10 tercatat mencapai 342, sedangkan PM2,5 berada di angka 345.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), meski berada satu tingkat di bawah Palembang. Wilayah tersebut masuk kategori sangat tidak sehat atau level merah, dengan PM10 sebesar 159 dan PM2,5 mencapai 219.[THQ]

