RELUNG.ID – Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi sejak dua tahun terakhir membuat produksi kopi menurun.
Tak hanya di Sumsel tetapi juga produksi kopi di dunia.
Padahal, saat ini permintaan atas kopi mengalami peningkatan.
Baca Juga: Erdogan Kembali Jadi Presiden Turki, Raih 52,14 Persen Suara
Analis PSP Ahli Madya Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian mengatakan, kondisi yang terjadi saat ini tentunya berdampak pada harga kopi di pasar yang mengalami peningkatan.
Hal ini dikarenakan produksi yang dikit dan permintaan yang banyak. “Untuk mencegah ini, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan,” katanya, Senin (29/5).
Untuk mencegah produksi menurun disaat suhu ekstrem yaitu, tanaman kopi perlu dilakukan penyiraman secara teratur. Selain itu, selalu rutin untuk melakukan pemupukan dan jangan hanya mengandalkan pohon berbuah alami saja.
Baca Juga: Spy x Family Season 2 Rilis Poster Baru, Siap-siap Hadir Oktober mendatang
“Kami sudah beberapa tahun ini memberikan bantuan terbatas mulai dari pembuatan Irigasi, baik berupa embung maupun pipanisasi dan ini dapat juga dilakukan oleh kelompok secara swadaya mengingat keterbatasan anggaran pemerintah,” katanya.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya yaitu, saat panen harus dengan cara melakukan petik merah atau matang sempurna dan jangan lagi petik pelangi, harga pun akan berbeda jika dijual petik merah
Kemudian yang perlu diperhatikan juga Agar produksi kopi kembali bagus adalah perawatan kopi pasca panen karena itu akan mempengaruhi produksi selanjutnya.
Baca Juga: Spy x Family Season 2 Rilis Poster Baru, Siap-siap Hadir Oktober mendatang
Tanaman kopi yang sudah tua juga perlu diremajakan. Serta melakukan perawatan dan pemeliharaan tanaman tadi seperti memupuk, pencegahan hama dan penyakit, pemberian pohon naungan dan lain lain sampai tanaman tadi berbuah.
“Dengan perawatan yang optimal, hasil produksi kopi bisa meningkat sampai 3 – 4 kali lipat. Dan Petani pun dapat sejahtera,” pungkasnya.

