RELUNG.ID – Dinas Pertanian dan Peternakan Muratara telah mengambil sampel puluhan kerbau yang mati di Muratara.
Berdasarkan hasil uji sampel tersebut, diketahui jika kerbau yang mati ini akibat terjangkit penyakit ngorok.
Penyakit ngorok atau Septicaemia Epizootica (SE) memang kerap menyerang hewan ternak.
Baca Juga: Cegah Produksi Menurun, Berikut Tips Untuk Petani Kopi Menghadapi Cuaca Ekstrem
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Muratara, Ade Mery mengatakan, sampel yang diuji merupakan sampel air liur saat kerbau tersebut masih hidup.
Hasilnya, dapat disimpulkan jika kematian puluhan kerbau di Muratara ini akibat penyakit SE.
“Hewan yang ngorok ini susah untuk bernapas, dan penularannya juga cukup cepat kepada hewan ternak lainnya,” katanya.
Baca Juga: Erdogan Kembali Jadi Presiden Turki, Raih 52,14 Persen Suara
Saat ini, pihaknya telah melakukan sebagian vaksinasi terhadap hewan ternak kerbau di Kabupaten Muratara.
Namun, masih ditemui sejumlah kendala. Diantaranya, pemilik ternak banyak yang meliarkan kerbaunya sehingga mereka susah untuk ditangkap atau dimasukkan ke kandang.
“Kami imbau kepada seluruh peternak kerbau untuk memasukkan kerbau mereka ke kandang, dan memisahkannya jika ada kerbau yang terjangkit penyakit ngorok sehingga tidak tertular,” pungkasnya.
Baca Juga: Spy x Family Season 2 Rilis Poster Baru, Siap-siap Hadir Oktober mendatang
Sebelumnya, para peternak kerbau di Desa Rantau Kadam, Kecamatan Karang Dapo, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dibuat khawatir.
Hal ini dikarenakan puluhan kerbau mereka mati mendadak. Belum diketahui penyebab kematian puluhan kerbau tersebut.
Akibat puluhan kerbau mereka mati, para peternak pun harus mengalami kerugian hingga puluhan juta.

