RELUNG.ID – Kopi menjadi minuman yang populer di berbagai usia, banyak orang meminum kopi hingga beberapa gelas dalam seharinya.
Sebagian orang menilai jika kopi ini bermanfaat khususnya bagi Alzheimer. Namun, berdasarkan penelitian terbaru ternyata kopi memiliki sisi gelap terhadap penyakit tersebut.
Dalam penelitian terbaru ini, menemukan bahwa asupan kafein dalam jangka panjang dapat memperburuk gejala penyakit Alzheimer.
Baca Juga: Lebaran Idul Fitri 1444 H Lengkapi dengan Bolu Lapis Nanas, Ini Resep dan Cara Buatnya
Dikutip dari Medical News Today, peneliti dari Universitat Autonoma de Barcelona di Spanyol, Lydia Giménez-Llort bersama tim melaporkan hasil penelitian mereka dalam jurnal Frontiers in Pharmacology. Dimana, penelitian tersebut dilakukan terhadap tikus dengan Alzheimer.
Dalam laporannya, dituliskan Gejala Alzheimer yang paling dikenal luas adalah kehilangan ingatan, tetapi penyakit ini dapat menimbulkan sejumlah gejala lain, termasuk delusi, halusinasi, lekas marah, kecemasan, dan depresi. Giménez-Llort dan timnya menyebutnya sebagai gejala perilaku dan psikologis demensia (BPSD).
Minum Kopi Mengurangi Alzheimer Belum Jelas
Dalam penelitian sebelumnya, kopi dianggap memiliki potensi menurunkan risiko Alzheimer dan demensia lainnya.
Sebagai contoh, sejumlah penelitian yang menggunakan model tikus telah menyimpulkan bahwa kopi dapat melindungi terhadap perkembangan Alzheimer. Bahkan dalam penelitian yang mengambil data dari partisipan manusia dalam jangka waktu yang lama, kopi tampaknya dapat menurunkan risiko penurunan kognitif, Alzheimer, dan demensia lainnya.
Bagaimana kopi dapat melindungi dari Alzheimer masih belum jelas, namun sebuah penelitian menyimpulkan bahwa komponen kecil – eicosanoyl-5-hydroxytryptamide dapat memberikan jawabannya.
Terlepas dari temuan ini, bagaimanapun, bagi individu yang sudah menderita Alzheimer, efek dari konsumsi kafein mungkin tidak begitu bermanfaat, menurut Dr. Giménez-Llort dan timnya.
Baca Juga: Bacaan Doa Selamat, Yuk Amalkan!
Para peneliti sampai pada kesimpulan mereka dengan mempelajari efek kafein pada model tikus penyakit Alzheimer.
“Tikus-tikus tersebut mengembangkan penyakit Alzheimer dengan cara yang sangat mirip dengan pasien manusia dengan bentuk awal penyakit ini,” jelas penulis pertama Raquel Baeta-Corral, yang juga berasal dari Universitat Autònoma de Barcelona.
Dia menambahkan, tidak hanya menunjukkan masalah kognitif yang khas tetapi juga sejumlah gejala seperti BPSD, jadi ini adalah model yang berharga untuk membahas apakah manfaat kafein akan dapat mengkompensasi efek negatifnya. Untuk mengetahuinya, tim menambahkan kafein ke dalam air minum hewan pengerat dari usia 6 hingga 13 bulan, dengan dosis 0,3 miligram per mililiter.
“Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa dosis ini menyebabkan asupan kafein harian sekitar 1,5 miligram pada tikus, yang setara dengan sekitar 500 miligram pada manusia, atau lima cangkir kopi per hari,” tulisnya.
Baca Juga: Spesifikasi Lengkap HP Samsung Galaxy A14, Kamera 50MP dan Baterai 5.000 mAh
BPSD meningkat pada tikus yang mengonsumsi kafein
Pada usia 13 bulan, tikus-tikus tersebut ikut serta dalam serangkaian eksperimen yang menilai gejala kognitif dan perilaku Alzheimer.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa tikus yang meminum air berkafein memiliki BPSD yang lebih besar termasuk kecemasan dan neofobia, atau ketakutan terhadap objek atau situasi yang tidak dikenal, dibandingkan dengan tikus yang mengonsumsi air biasa.
Selain itu, mereka menemukan bahwa kafein hanya memiliki sedikit manfaat untuk pembelajaran dan memori pada hewan pengerat.
“Jadi kita harus berhati-hati dalam merekomendasikan kopi dan produk berkafein lainnya pada orang dewasa yang menderita penyakit Alzheimer,” kata Dr. Giménez-Llort dan rekan-rekannya.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Selasa 28 Februari 2023, Tujuh Wilayah Waspada Banjir
Dari hasil ini, menegaskan bahwa kafein meskipun digunakan sehari-hari dan relatif tidak ada peraturan pemerintah. Kafein merupakan senyawa kuat dengan efek multifaset. “Kami berspekulasi bahwa selama pengobatan kronis dengan kafein, eksaserbasi gejala BPSD yang mirip kecemasan dapat mengganggu sebagian efek kognitif yang menguntungkan sejauh mereka dapat berada di arah yang berlawanan,” tulisnya.

