RELUNG.ID – Subuh belum benar-benar datang di Lubuklinggau. Langit masih berwarna kelabu ketika dari sebuah bangunan biru di Jalan Pembangunan, Kelurahan Air Kuti, terdengar bunyi gemerincing panci, cipratan air, dan obrolan ringan yang menyatu dengan aroma nasi hangat dan sayur asem.
Bangunan itu bukan restoran, bukan pula dapur hotel. Di sanalah Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Polres Lubuklinggau beroperasi, dapur besar yang menjadi urat nadi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ribuan warga.
Setiap hari, lebih dari 3.100 porsi makanan bergizi dimasak di sini. Bukan hanya untuk siswa sekolah, tapi juga untuk ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.
“Setiap porsi punya tanggung jawab. Kami tidak sekadar memasak, tapi memastikan apa yang sampai di tangan penerima benar-benar layak,” ujar Ardiyansyah, Kepala SPPG Polres Lubuklinggau.
Dapur ini baru berdiri 22 September 2025. Dulunya, gedung tersebut dirancang untuk poliklinik Dokkes Polres Lubuklinggau. Namun, keputusan berubah. Polres memilih menjadikannya dapur umum bergizi, keputusan yang kini menghidupkan ribuan perut setiap hari.
Sebanyak 47 relawan dan dua petugas keamanan bergantian bekerja dalam sistem tiga shift. Mereka dibagi dalam divisi persiapan, pengolahan, pencucian ompreng, pengepakan, dan distribusi.
Rutinitas mereka dimulai sore hari. Pukul 15.00 WIB, bahan baku berdatangan, mulai dari beras, ayam, ikan, sayur, semua harus melalui pemeriksaan ketat. “Kami kroscek satu per satu. Kualitas bahan itu awal dari kualitas gizi,” kata Ardiyansyah.
Begitu malam tiba, dapur berubah menjadi ladang aktivitas. Api kompor besar menyala, panci mendidih, dan suara sendok logam bergesekan dengan wajan. Para relawan bekerja dalam ritme yang terukur, berpacu dengan waktu.
Pukul 23.00 WIB, tim pengolahan mulai bertugas. Mereka memasak hingga menjelang fajar. Ketika ayam goreng matang dan sayur asem mengepulkan uap, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi.
Saat itulah giliran tim pengepakan datang. Mereka bekerja cepat dan rapi, memindahkan lauk, sayur, dan nasi ke wadah logam. Setiap porsi diperiksa oleh ahli gizi tak ada kompromi soal kebersihan.
“Kalau ada yang kurang layak, langsung kami ganti. Tidak boleh asal cepat,” kata Geri, Asisten Lapangan yang bertugas mengawasi pengepakan.
Tepat pukul 07.00 WIB, kendaraan pengangkut mulai berangkat. Paket makanan itu dibawa ke Posyandu Kamboja, SDN 46, SDN 85, SMPN 2, SMAN 2, dan SMK Pertanian.
Fran, salah satu relawan muda, mengaku sempat kewalahan di awal. “Kami harus disiplin dan tepat waktu. Kalau terlambat, rasa dan kualitas bisa berubah. Tapi kami bangga bisa terlibat,” ujarnya dengan senyum lelah.
Di tengah hiruk-pikuk dapur biru itu, ada sosok yang menjadi motor utama. Herman Susanto, Kepala Juru Masak SPPG, dulunya adalah chef di hotel dan restoran ternama. Kini, ia memilih jalur pengabdian.
“Dulu saya memimpin dapur di hotel, semuanya profesional. Di sini, saya mengajar ibu-ibu rumah tangga dan anak muda. Mereka belum berpengalaman, tapi semangatnya luar biasa,” tutur Herman.
Ia memimpin 18 kru dapur, dibantu tim pengelola menu, bagian persiapan, dan juru masak nasi. “Kami kerja keras, tapi suasananya seperti keluarga. Setiap panci yang kami aduk, ada cinta di dalamnya,” ujarnya tersenyum.
Keamanan pangan menjadi prioritas utama. Semua yang masuk area dapur wajib memakai alat pelindung diri (APD) lengkap: masker, penutup kepala, dan sepatu karet. Setiap zona mulai dari pemotongan sayur hingga pengolahan lauk dipisah agar tak terjadi kontaminasi silang.
“Setiap pagi sebelum distribusi, Dokkes Polres memeriksa keamanan makanan,” jelas Kompol M. Syamsul Zachri, Wakapolres Lubuklinggau.
Selain itu, Polres bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk pengelolaan limbah serta Dinas Kesehatan, yang telah mengeluarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi dapur ini.
Dapur SPPG Polres Lubuklinggau mungkin tampak sederhana. Namun di balik hiruk-pikuknya, tersimpan cerita tentang ketulusan, kedisiplinan, dan kerja sama.
Setiap subuh, dari dapur biru ini mengalir bukan hanya aroma masakan, tapi juga harapan. Harapan bagi anak-anak agar tumbuh sehat, bagi ibu-ibu agar kuat, dan bagi masyarakat agar merasakan kepedulian nyata dari mereka yang bekerja tanpa banyak terlihat.
“Bagi kami, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini ibadah,” ujar Herman, sebelum kembali menyalakan kompor.
Dan di saat matahari mulai naik di langit Lubuklinggau, 3.100 porsi makanan telah meluncur membawa gizi, semangat, dan secuil cinta dari dapur yang tak pernah tidur. (NSR)

