RELUNG.ID – Cuaca ekstrem yang terjadi di beberapa daerah di Empat Lawang menyebabkan sejumlah daerah diterjang banjir bandang, beberapa waktu lalu.
Banjir ini menyebabkan puluhan hektare sawah gagal panen, puluhan rumah terendam banjir serta merusak infrastruktur vital di kecamatan Paiker, Empat Lawang, Sumsel.
Camat Paiker, Susanto, yang memantau langsung proses evakuasi dan pendataan, menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor terus diperkuat.
“Kami bersama tim BPBD, Polsek, dan TNI terus melakukan pendataan detail. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan menyiapkan langkah penanganan darurat,” ujar Susanto.
Pemerintah mengimbau warga untuk tetap siaga satu. Mengingat cuaca ekstrem yang masih mengintai, potensi banjir susulan masih sangat tinggi.
Warga yang tinggal di bantaran sungai diminta untuk terus memantau debit air dan segera mengungsi jika tanda-tanda alam menunjukkan peningkatan bahaya.
Saat ini, bantuan darurat sedang dipersiapkan oleh Pemkab Empat Lawang untuk meringankan beban para korban, terutama bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber mata pencaharian mereka.
Untuk diketahui, hujan deras yang mengguyur sejak Minggu (5/4) siang hingga malam hari mengakibatkan luapan sungai yang menghantam pemukiman dan merusak sektor pertanian warga.
Hingga Senin sore (6/4/2026), air memang telah surut, namun menyisakan pilu bagi warga di Desa Nanjungan dan Desa Air Mayan.
Banjir kali ini menghantam titik paling vital bagi ekonomi warga, yakni lahan persawahan.
Tercatat sebanyak 35 hektare sawah dipastikan gagal panen (puso) setelah tersapu banjir dan kini terkubur material lumpur serta sampah.
Rincian lahan yang terdampak meliputi: Desa Nanjungan: 20 hektare sawah rusak dan Desa Air Mayan: 15 hektare sawah rusak. Kerugian ini diperparah dengan jebolnya Bendungan Sungai Hangat.
Kerusakan infrastruktur ini menyebabkan air meluap hingga merendam pemukiman di Desa Pagar Jati yang sebelumnya relatif aman.
Luapan air setinggi lutut orang dewasa sempat merendam setidaknya 25 unit rumah warga.
Berdasarkan data lapangan, dampak terparah berada di Desa Air Mayan dengan 20 rumah terdampak, disusul Desa Nanjungan dengan 5 rumah.
Pasca surutnya air, sinergi antara warga dan aparat keamanan langsung diperkuat. (SLM)

