RELUNG.ID – Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026 tidak hanya membawa dampak kekeringan dan cuaca panas, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit di tengah masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap sedikitnya tujuh penyakit yang berpotensi mengalami peningkatan kasus selama periode tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, mengatakan kondisi cuaca panas, kelembapan udara yang rendah, terbatasnya ketersediaan air bersih, serta meningkatnya debu menjadi faktor utama yang memicu munculnya berbagai gangguan kesehatan.
“Musim kemarau di Sumsel biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober. Kondisi cuaca seperti ini membuat beberapa penyakit cenderung meningkat kasusnya,” ujar Ira, Kamis (4/6/2026).
Salah satu penyakit yang tetap menjadi perhatian adalah demam berdarah dengue (DBD). Meski sering dikaitkan dengan musim hujan, nyamuk Aedes aegypti masih dapat berkembang biak pada tempat penampungan air bersih yang banyak digunakan masyarakat saat kemarau.
Bak mandi, drum penampung air, hingga wadah dispenser dapat menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk jika tidak dibersihkan secara rutin. Karena itu, Dinkes mengimbau masyarakat tetap menjalankan gerakan pemberantasan sarang nyamuk meskipun curah hujan menurun.
Selain DBD, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga menjadi ancaman serius, terutama jika musim kemarau disertai meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap yang dihasilkan berpotensi memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, khususnya bagi anak-anak dan lanjut usia.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai diare dan tifus yang berpotensi meningkat akibat keterbatasan air bersih. Menurunnya kualitas sanitasi dan kebersihan makanan dapat mempermudah penyebaran bakteri penyebab penyakit pencernaan.
Di sisi lain, kondisi udara yang kering dan berdebu turut meningkatkan risiko konjungtivitis atau mata merah. Penyakit ini mudah menular melalui kontak langsung maupun penggunaan barang pribadi secara bergantian.
Ancaman lain yang mulai banyak ditemukan saat suhu udara meningkat adalah heat exhaustion dan heatstroke. Suhu siang hari di sejumlah wilayah Sumsel dapat mencapai lebih dari 34 derajat Celsius, sehingga berisiko menyebabkan dehidrasi hingga gangguan serius akibat paparan panas berlebihan.
Kelompok yang paling rentan antara lain pekerja lapangan, petani, pedagang kaki lima, serta pelajar yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Keterbatasan air bersih selama kemarau juga berpotensi meningkatkan kasus penyakit kulit seperti scabies, kurap, dan panu. Kurangnya frekuensi mandi serta kebersihan diri dapat memicu pertumbuhan jamur maupun penyebaran parasit penyebab gangguan kulit.
Sementara itu, campak dan rubella tetap menjadi perhatian meskipun tidak secara langsung dipicu oleh musim kemarau. Aktivitas masyarakat yang lebih banyak dilakukan di dalam ruangan dapat mempercepat penyebaran penyakit melalui percikan droplet.
Menurut Ira, kondisi geografis Sumsel, kepadatan penduduk di sejumlah wilayah, serta masih terbatasnya akses air bersih di beberapa daerah menjadi faktor yang membuat masyarakat rentan terhadap berbagai penyakit tersebut.
Karena itu, Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala penyakit.
“Musim kemarau bukan untuk ditakuti, tetapi harus dihadapi dengan kesiapan dan kewaspadaan. Pencegahan menjadi langkah terbaik untuk melindungi diri dan keluarga dari berbagai penyakit yang berpotensi muncul,” kata Ira.[THQ]

