RELUNG.ID – Ramadan selalu menghadirkan cerita berbeda di setiap penjuru dunia. Tahun 2026, bukan hanya soal suasana ibadah yang khusyuk, tetapi juga perbedaan durasi puasa yang cukup mencolok antara Belahan Bumi Utara dan Selatan.
Secara astronomis, perbedaan ini dipengaruhi oleh posisi matahari dan perubahan musim. Ramadan kali ini jatuh mendekati peralihan musim, membuat negara-negara di Belahan Bumi Selatan mengalami siang yang relatif lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, negara-negara di Belahan Bumi Utara justru menikmati durasi puasa yang sedikit lebih singkat.
Dilaporkan Al Jazeera, durasi puasa di Belahan Bumi Utara akan terus cenderung memendek hingga 2031, saat Ramadan bertepatan dengan titik balik matahari musim dingin—hari dengan durasi siang terpendek dalam setahun.
Belahan Selatan Jalani Puasa Terlama
Kota Christchurch di Selandia Baru mencatat salah satu durasi puasa terpanjang tahun ini, yakni 15 jam 22 menit pada hari pertama Ramadan. Disusul Puerto Montt di Chile dengan 15 jam 13 menit.
Beberapa kota lain di belahan selatan yang mengalami puasa panjang antara lain Canberra (14 jam 48 menit), Montevideo (14 jam 42 menit), Buenos Aires (14 jam 42 menit), serta Johannesburg (14 jam 13 menit).
Durasi ini dipengaruhi oleh musim panas yang masih menyisakan panjang siang hari di kawasan tersebut, meski secara bertahap akan memendek seiring pergeseran kalender hijriah.
Negara dengan Puasa Tersingkat
Sebaliknya, sejumlah kota di Eropa Utara dan kawasan lintang tinggi menikmati waktu puasa yang relatif lebih singkat, berkisar 11–12 jam.
Di Paris, umat Muslim berpuasa sekitar 11 jam 33 menit. Sementara di Reykjavik dan Nuuk, durasinya sekitar 11 jam 42 menit. Kota lain seperti Helsinki dan Oslo juga mencatat waktu puasa di bawah 12 jam.
Indonesia Stabil di 13 Jam
Bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia, durasi puasa relatif stabil karena berada di kawasan khatulistiwa. Rata-rata waktu berpuasa sekitar 13 jam 28 menit, tidak terlalu panjang maupun terlalu singkat dibandingkan negara lain.
Perbedaan panjang pendeknya puasa ini menjadi refleksi betapa Islam dipraktikkan dalam beragam kondisi geografis. Meski durasinya berbeda, esensi Ramadan tetap sama: menahan diri, memperbanyak ibadah, serta memperkuat solidaritas sosial.
Ramadan 2026 kembali menunjukkan bahwa umat Muslim di berbagai belahan dunia menjalani tantangan yang beragam, namun tetap berada dalam semangat yang sama—meraih keberkahan dan pahala yang dilipatgandakan.

