RELUNG.ID-Penetapan Bupati Pati Sudewo sebagai tersangka kasus dugaan jual beli jabatan pengisian perangkat desa (perades) tak hanya memantik respons hukum, tetapi juga memunculkan ekspresi emosional warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Di jantung kota Pati, reaksi itu terlihat nyata. Sejumlah karangan bunga bernada satir berjajar di depan Kantor Bupati Pati, Rabu (21/1/2026), seolah menjadi pesan terbuka masyarakat terhadap pemimpinnya yang kini mendekam di tahanan KPK sejak Selasa (20/1/2026).
Karangan bunga tersebut dipasang di pagar kantor bupati di kawasan Alun-Alun Simpang Lima Pati. Pengirimnya mengatasnamakan Komunitas Rakyat Pati Bahagia dan Paguyuban Juru Kunci Makam Pati. Ucapan yang tertera pun tak biasa, mulai dari “Selamat Menempuh Hidup Baru” hingga “Selamat dan Sukses Menempuh Wisuda di Gedung Merah Putih.”
Tak berhenti di situ, kegembiraan sebagian warga juga tumpah ruah pada Selasa (20/1/2026) malam. Langit Alun-Alun Simpang Lima Pati dihiasi kembang api dan nyala flare merah sesaat setelah KPK mengumumkan status tersangka terhadap Sudewo.
Sekitar pukul 21.05 WIB, dentuman kembang api memecah keheningan malam, sementara kepulan asap flare menyelimuti lapangan hijau yang biasa menjadi ruang publik warga. Aksi tersebut menjadi simbol pelampiasan harapan masyarakat terhadap penegakan hukum di daerah mereka.
Dari penelusuran di lapangan, pesta kembang api itu diinisiasi simpatisan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), kelompok masyarakat yang selama ini dikenal lantang mengkritik kepemimpinan Sudewo dan mendesaknya mundur dari jabatan.
Sutikno, salah satu inisiator aksi tersebut, menyebut perayaan itu sebagai bentuk rasa syukur atas langkah tegas KPK.
“Kembang api ini bukan sekadar pesta, tapi ungkapan syukur kami karena hukum akhirnya ditegakkan. Terima kasih KPK, karena hukum harus adil dan tidak tebang pilih,” ujar Sutikno.
Ia juga menitipkan pesan kepada pemimpin Pati ke depan agar lebih terbuka dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
“Pati harus lebih baik. Anggaran harus transparan dan uang rakyat digunakan untuk pembangunan, bukan kepentingan pribadi,” tegasnya.
Sementara itu, Juru Bicara AMPB, Saiful Huda Ayubi, menyatakan pihaknya tengah menyiapkan agenda syukuran rakyat sebagai bentuk doa dan refleksi bersama.
“Dalam waktu dekat kami akan menggelar syukuran rakyat, sebagai wujud harapan agar praktik korupsi tidak terulang lagi di Kabupaten Pati,” kata Saiful.
Menurutnya, AMPB merencanakan tumpengan besar-besaran dan doa bersama di Alun-Alun Simpang Lima Pati, disertai hiburan rakyat yang tetap memperhatikan ketertiban umum.
“Hajatan ini bukan euforia semata, tetapi doa agar kepemimpinan selanjutnya lebih bersih dan berpihak kepada rakyat Pati,” jelasnya.
Saiful mengklaim agenda tersebut diperkirakan akan dihadiri sedikitnya 2.000 warga. Hingga kini, koordinasi internal terus dilakukan untuk mematangkan rencana kegiatan. [YSF]

