Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Dari Prasasti ke Jabatan, Jejak Sumpah Kutukan Sriwijaya di Palembang
Regional

Dari Prasasti ke Jabatan, Jejak Sumpah Kutukan Sriwijaya di Palembang

RiyadiBy Riyadi10/07/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Suasana narasumber dalam seminar hasil kajian koleksi Museum Sriwijaya , Prasasti-Prasasti Sapatha Sriwijaya dan Fragmen Kapal Sriwijaya di UPTD Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya (TWKS) , Gandus, Palembang, Rabu (9/7/2025). (Relung/DSK)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID- Konsep sapatha atau sumpah kutukan yang ditemukan dalam prasasti-prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya, dinilai masih memiliki relevansi dalam kehidupan publik masa kini, terutama dalam konteks etika kekuasaan dan jabatan.

Hal itu disampaikan sejumlah pakar dalam seminar hasil kajian koleksi Museum Sriwijaya bertema “Prasasti-Prasasti Sapatha Sriwijaya dan Fragmen Kapal Sriwijaya”, yang digelar di UPTD Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya (TWKS), Gandus, Palembang, Rabu (9/7/2025).

Sejarawan Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr. Dedi Irwanto, M.A., menyebut bahwa sapatha tidak sekadar bagian dari sistem hukum kuno, tetapi merupakan ideologi yang mencerminkan tatanan moral dan spiritual masyarakat Sriwijaya.

Baca juga :   Pemkab Muba Gelar Vaksinasi Rabies Gratis, Catat Tanggal dan Lokasinya!

“Sapatha merupakan simbol kedamaian dan kesejahteraan. Nilainya masih relevan saat ini, misalnya dalam bentuk sumpah jabatan yang diucapkan oleh pejabat publik,” kata Dedi dalam forum yang dimoderatori oleh pemerhati sejarah Palembang, Rd Moh Ikhsan.

Menurut Dedi, konsep kutukan dalam sapatha bisa membentuk ketakutan moral bagi mereka yang berkuasa. Ia bahkan mengaku merasa takut jika harus menjadi pejabat karena bayang-bayang kutukan terhadap pelanggaran sumpah.

Dedi menyinggung penangkapan mantan Wali Kota Palembang, Harnojoyo, dalam kasus Pasar Cinde sebagai contoh kontemporer yang bisa dimaknai sebagai manifestasi kutukan dari pelanggaran amanah publik.

Baca juga :   Tidak Hanya KSOP, Aktivis Minta Kejati Periksa Pejabat Dishub Muba dan Sumsel Era 2019–2025 Terkait Korupsi Pelayaran

“Kalau pejabat mengkhianati sumpah, dalam konteks sejarah Sriwijaya itu tidak hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pelanggaran spiritual,” tegasnya.

Lebih jauh, Dedi menjelaskan bahwa sapatha tak selalu bermakna negatif. Dalam konteks ajaran Buddha, sumpah itu juga dapat membawa berkah bagi yang berbuat baik menjadikan seseorang berwajah syarira, yakni pribadi yang murni secara jasmani dan rohani.

Ia juga mengaitkannya dengan ajaran tasawuf dalam Islam, di mana proses menuju makrifat menuntut integritas dan kesadaran penuh akan kebenaran.

Baca juga :   Libur Lebaran di Palembang? Ini 5 Rekomendasi Tempat Wisata yang Harus Kalian Kunjungi

Sementara itu, Peneliti Ahli Muda Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang juga Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI), Wahyu Rizky Andhifani, melihat sapatha sebagai perangkat sakral kekuasaan Sriwijaya untuk memastikan loyalitas mutlak dari rakyat dan pejabatnya.

“Sapatha adalah instrumen politik transenden. Pelanggar tidak hanya dihukum secara sosial, tapi juga dikutuk secara spiritual. Bahkan kutukannya bisa turun kepada keluarga dan keturunan,” ungkap Wahyu.

Ia menjelaskan bahwa dalam teks-teks prasasti, pelanggaran terhadap datu dianggap sebagai dosa kosmik yang bisa membawa penyakit, kegilaan, hingga kehancuran moral.

Baca juga :   Penumpang Kereta di Divre III Palembang Naik 11 Persen saat Libur Panjang

“Ini menunjukkan Sriwijaya memerintah bukan hanya dengan militer atau administrasi, tapi dengan sistem hukum yang performatif, di mana kata-kata dalam prasasti menjadi alat kontrol sosial dan spiritual,” katanya.

Hal senada disampaikan arkeolog BRIN, Sondang Martini Siregar. Ia menjelaskan bahwa banyaknya prasasti kutukan Sriwijaya merupakan bentuk penegasan otoritas dan kekuasaan datu di mata rakyat dan pejabat kerajaan.

“Prasasti kutukan itu pernyataan kekuasaan. Isinya menunjukkan kekhawatiran terhadap pemberontakan atau pengkhianatan, terutama di daerah-daerah taklukan. Dengan kutukan, kekuasaan Sriwijaya bisa tetap stabil dan meluas,” terang Sondang.

Baca juga :   Mengenal 8 Raja-Raja Pemimpin Kerajaan Sriwijaya

Ia menambahkan bahwa kutukan dalam prasasti bersifat total, tak hanya menyasar pelaku, tetapi juga orang-orang yang membujuk atau mendukung tindakan pengkhianatan.

“Bahkan keluarganya pun kena kutuk. Ini memperlihatkan betapa seriusnya otoritas Sriwijaya menjaga loyalitas dan ketertiban,” tuturnya.[DSK]

Kerajaan Sriwijaya Sapatha Sumpah
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleAda Pejabat Deketin Tante Ernie? Netizen Malah Seret Inisial RK
Next Article Polda Sumsel Sulap Lahan Rawan Karhutla Jadi Sentra Jagung di Ogan Ilir


Riyadi

Related Posts

Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20266 Views
Regional

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/20265 Views
Regional

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/20262 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,897 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,770 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,742 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?