RELUNG.ID- Kabar mengejutkan datang dari dunia narkotika internasional. Dewi Astutik, alias Pariyatin, gembong narkoba internasional asal Indonesia yang beroperasi di kawasan Golden Triangle, akhirnya ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Senin (1/12/2025) di Sihanoukville, Kamboja.
Suami Dewi, Sarno, mengaku syok mengetahui penangkapan istrinya.
“Saya syok, tapi saya pasrah. Lihat di foto, benar itu istri saya (Dewi Astutik alias Pariyatin),” ungkapnya.
Meski Dewi memiliki reputasi besar sebagai pengendali jaringan narkoba internasional, rumahnya di Lingkungan Jepun, Balong, Ponorogo, Jawa Timur, tampak sederhana. Tidak ada tanda-tanda kemewahan, hanya kesahajaan kehidupan sehari-hari.
Sarno menambahkan, Dewi sempat bekerja di Taiwan selama 10 tahun sebelum kembali ke Indonesia pada 2023. Ia kemudian kembali bekerja ke luar negeri pada 2024.
“Sebelum puasa, tahun 2024. Pamitnya ke rumah bosnya yang dulu di Taiwan,” ujar Sarno.
Ia menegaskan tidak mengetahui aktivitas kriminal istrinya.
“Di media ada fotonya, saya syok dan kaget. Tapi saya pasrah. Di rumah saja susah didiknya. Tapi ya gimana. Soal gembong narkoba? Saya tidak tahu, soal sepak terjangnya nggak tahu saya. Tahunya kerja sebagai TKW, pembantu rumah tangga,” tambahnya.
Penangkapan Dewi Astutik dilakukan oleh tim BNN bekerja sama dengan Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, serta Badan Intelijen Strategis TNI. Operasi ini merupakan bagian dari upaya lintas negara untuk menangkap buronan internasional yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) terkait penyelundupan 2 ton sabu sejak 2024.
Dewi Astutik dikenal sebagai pengendali jaringan narkotika Golden Triangle yang sebelumnya digagalkan BNN pada Mei 2025. Ia diduga menjadi pemimpin lapangan sekaligus perekrut kurir, mayoritas warga negara Indonesia, dengan jangkauan operasi meluas hingga Asia, Amerika Latin, dan Afrika.
Nama “Dewi Astutik” sendiri merupakan samaran. Nama asli perempuan yang kini diamankan di Jakarta ini adalah PA, warga Dukuh Sumber Agung, Desa Balong, Ponorogo, Jawa Timur. Sejak lama, Dewi Astutik diketahui bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI), termasuk di Hongkong, Taiwan, dan Kamboja.[YKP]

