Seorang diplomat Jepang ditahan dan diminta untuk meninggalkan negara Rusia dalam tempo waktu 48 jam. Pasalnya, diplomat tersebut dicurigai sebagai mata-mata dan telah memberikan informasi rahasia tentang kerjasama Rusia dengan Negara Asia lainnya.
Layanan Keamanan Federal Rusia (FSB) dalam sebuah pernyataannya menyebutkan pria tersebut yakni Motoki Tatsunori yang bekerja sebagai pegawai konsulat Jepang di Kota Pelabuhan Vladivostok di Timur Rusia.
“Seorang diplomat Jepang ditahan saat memberi informasi rahasia, dengan imbalan uang, tentang kerjasama Rusia dengan negara lain di kawasan Asia-Pasifik,” kata dilansir dari The National, Selasa kemarin (27/9).
Seperti diketahui, angkatan bersenjata Rusia telah meningkatkan kerjasama dengan saingan Jepang yaitu China, dalam beberapa tahun terakhir dengan mengadakan sejumlah latihan militer dan angkatan laut skala besar di kawasan Pasifik.
“Tatsunori juga telah meminta informasi tentang dampak sanksi barat di wilayah Primorsky timur, kata kantor berita mengutip FSB.
Diplomat itu kemudian dinyatakan persona non grata oleh Rusia, yang secara otomatis menghilangkan kekebalan diplomatiknya.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa diplomat itu telah diperintahkan untuk meninggalkan negara itu dalam waktu 48 jam.
FSB mengatakan telah mengajukan protes dengan Tokyo melalui saluran diplomatik, kantor berita melaporkan.
Organisasi keamanan juga mendistribusikan video pendek yang dikatakan menunjukkan diplomat itu mengakui bahwa dia telah melanggar hukum Rusia.
Sementara itu juru bicara pemerintah Jepang ,Hirokazu Matsuno telah menyatakan keberatan atas penahanan Tatsunori.
“Rusia menahan konsulat itu dengan cara yang mengintimidasi, menutup matanya dan menahannya, yang merupakan “pelanggaran nyata terhadap Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik,” kata Matsuno.
“Konsul yang ditahan tidak terlibat dalam aktivitas ilegal apa pun,” lanjutnya, menuntut permintaan maaf resmi dari Moskow.
Moskow dan Tokyo telah bertukar sanksi dan pengusiran diplomat sejak 24 Februari ketika Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan apa yang disebut Kremlin sebagai operasi militer khusus di Ukraina.
Tokyo memiliki hubungan yang kompleks dengan Moskow sebelum invasi Ukraina dan kedua belah pihak belum menandatangani perjanjian damai pasca-Perang Dunia Kedua.
Upaya untuk melakukannya telah terhambat oleh perselisihan yang sudah berlangsung lama atas Kepulauan Kuril, yang saat ini dikuasai oleh Rusia.
Moskow sendiri telah menganggap Jepang sebagai negara tidak bersahabat, sebutan yang sama dengan Uni Eropa, AS, Inggris, dan Australia.

