RELUNG.ID – Produsen otomotif Jaguar Land Rover (JLR) menghadapi tekanan besar setelah harus menarik kembali lebih dari 170.000 kendaraan akibat masalah pada sistem kelistrikan.
Penarikan ini dipicu oleh potensi kegagalan komponen konverter DCDC yang dapat menyebabkan kendaraan kehilangan daya secara bertahap.
Berdasarkan dokumen yang diajukan ke National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), total 170.169 unit kendaraan terdampak, yang diproduksi antara tahun 2019 hingga 2024.
Model yang termasuk dalam penarikan ini mencakup lini populer seperti Range Rover, Range Rover Sport, Defender, Velar, Evoque, Discovery, serta model dari merek Jaguar seperti F-Pace dan E-Pace.
Masalah ini hanya terjadi pada kendaraan dengan sistem mild-hybrid. Konverter DCDC yang bermasalah tidak mampu mengisi sistem kelistrikan 12 volt, serupa dengan fungsi alternator pada mobil konvensional.
Jika komponen ini gagal, pengemudi akan menerima peringatan “berhenti dengan aman, kerusakan listrik terdeteksi”.
Jika peringatan tersebut diabaikan, gangguan dapat berkembang menjadi lebih serius. Sistem bantuan pengemudi dapat berhenti berfungsi, diikuti dengan gangguan suspensi, hingga kendaraan berisiko berpindah ke posisi netral secara tiba-tiba. Dalam kondisi ekstrem, mesin dapat mati dan bahkan lampu eksterior kendaraan ikut padam.
JLR mencatat hampir 6.000 laporan terkait masalah ini di Amerika Serikat. Awalnya, perusahaan menilai gangguan tersebut bukan risiko keselamatan karena muncul secara bertahap.
Namun, penilaian itu ditolak oleh NHTSA yang kemudian menetapkan bahwa masalah ini memiliki potensi bahaya, sehingga mendorong dilakukannya penarikan resmi.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan kecelakaan, cedera, maupun kebakaran yang terkait dengan cacat tersebut. Tantangan lain bagi pemilik kendaraan adalah belum tersedianya solusi perbaikan dari pihak produsen. (LWM)

