RELUNG.ID-Masuknya nama Kota Pagar Alam dalam daftar 10 kota paling intoleran di Indonesia versi Setara Institute memicu reaksi dari warga, khususnya kalangan pendatang dan tokoh etnis minoritas.
Penilaian tersebut dianggap tidak mencerminkan kondisi sosial masyarakat Pagar Alam yang selama ini hidup dalam suasana rukun dan harmonis antar etnis maupun antar pemeluk agama.
Johan Ko Cik (35), tokoh pemuda Tionghoa di Pagar Alam, menyayangkan label intoleran yang disematkan Setara Institute. Menurutnya, selama lebih dari satu dekade tinggal di kota itu, ia tidak pernah merasakan perlakuan diskriminatif dari masyarakat maupun pemerintah.
“Yang kami rasakan justru hidup rukun. Walau berbeda etnis dan kepercayaan, masyarakat Pagar Alam sangat menerima. Pemerintah daerah pun mengayomi kami tanpa membedakan,” ujar Johan, Senin (4/6/2025).
Ia menilai nilai-nilai toleransi dan kekeluargaan sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari di Pagar Alam.
Senada dengan itu, Kabag Kesra Pemkot Pagar Alam Hafiz Ramadhan juga membantah klaim intoleransi tersebut. Ia menegaskan, pemerintah kota telah lama membentuk dan mengaktifkan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) sebagai wadah silaturahmi antar tokoh lintas agama dan budaya.
“FKUB aktif menggelar kegiatan bersama antar umat beragama. Forum ini membuktikan bahwa harmoni dan toleransi di Pagar Alam sangat terjaga,” kata Hafiz.
Menurutnya, segala bentuk praktik ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat tetap dijamin selama tidak bertentangan dengan norma dan peraturan yang berlaku.
“Pemkot Pagar Alam sangat berkomitmen menjaga kondusifitas daerah agar kehidupan sosial tetap damai dan pembangunan bisa terus berjalan demi kesejahteraan masyarakat,” tutup Hafiz.[TFK]

