RELUNG.ID – Provinsi Sumsel mencatatkan deflasi sebesar 0,36 persen (mtm) pada Januari 2025. Penurunan ini didorong oleh beberapa faktor utama, termasuk kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen dan penurunan harga sejumlah komoditas pangan, seperti tomat, telur ayam ras, bawang merah, dan ketimun.
“Secara tahunan, inflasi Sumsel tercatat sebesar 0,92 persen (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1,20 persen (yoy). Penurunan ini sejalan dengan tren inflasi nasional yang juga menurun menjadi 0,76 persen (yoy),” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Ricky Perdana Gozali, Jumat (7/2/2025).
Penurunan tarif listrik rumah tangga hingga 50 persen bagi pelanggan dengan daya kurang dari 2.200 VA memberikan kontribusi besar terhadap deflasi, dengan andil mencapai 1,22 persen (mtm).
Selain itu, harga tomat, bawang merah, dan ketimun masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,14 persen (mtm), 0,02 persen (mtm), dan 0,01 persen (mtm). Penurunan harga telur ayam ras, yang memiliki andil sebesar 0,02 persen (mtm), dipengaruhi oleh turunnya harga pakan ternak, khususnya jagung pipilan.
Deflasi yang terkendali di Sumsel tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menerapkan strategi 4K: Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif.
TPID secara konsisten melaksanakan operasi pasar murah di berbagai daerah untuk menstabilkan harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Langkah ini diperkuat dengan pemberian subsidi harga, subsidi angkutan, dan subsidi operasional guna mendukung operasi pasar murah.
Selain itu, inspeksi pasar rutin dan pemantauan distribusi pangan dilakukan untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan stok. Pengawasan terhadap distribusi dan harga minyak goreng juga terus dilakukan melalui inspeksi langsung ke produsen dan distributor utama.
Dalam rangka menjaga kestabilan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi, TPID Sumsel menggencarkan sinergi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan Gerakan Pengendalian Inflasi Serentak se-Sumsel (GPISS).
Program inovatif seperti Gerakan Sumsel Mandiri Pangan Goes to School dan Goes to Office, serta akselerasi pengentasan kemiskinan melalui Sekretariat Bersama Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Daerah Sumsel, menjadi upaya lanjutan dalam menjaga stabilitas ekonomi wilayah. (CKM)

