RELUNG.ID — Sekelompok peneliti di Australia telah mengidentifikasi spesies baru laba-laba jaring corong Sydney yang lebih besar, lebih berbisa, dan masuk ke dalam daftar araknida paling mematikan di dunia. Spesies ini diberi nama Atrax christenseni untuk menghormati Kane Christensen, seorang ahli laba-laba dan mantan kepala bagian laba-laba di Taman Reptil Australia.
Penemuan spesies baru ini pertama kali dilakukan oleh Christensen di dekat Newcastle, sekitar 170 km dari Sydney, pada awal 2000-an. Setelah lebih dari dua dekade penelitian, para ilmuwan dari Museum Australia, Universitas Flinders, dan Institut Leibniz Jerman menerbitkan hasil risetnya di jurnal *BMC Ecology and Evolution.
Atrax christenseni, yang juga dijuluki “Big Boy” (Bocah Besar), memiliki panjang hingga 9 sentimeter—hampir dua kali lipat ukuran laba-laba jaring corong Sydney biasa yang rata-rata hanya mencapai 5 sentimeter. Dengan tubuh hitam pekat dan sifat nokturnal, laba-laba ini aktif di malam hari dan dapat ditemukan dalam radius 150 kilometer dari Sydney.
Menurut Christensen, spesies ini memiliki kelenjar bisa lebih besar dan taring lebih panjang, yang membuatnya jauh lebih berbahaya. “Mereka mengeluarkan banyak racun, jadi menyentuhnya adalah hal yang sangat tidak disarankan,” ujarnya, dikutip dari Reuters.
Pejantan A. christenseni memiliki racun yang lebih kuat dibandingkan betina dan dapat menyebabkan kematian pada manusia. Namun, sejak pengembangan antivenom pada 1980-an, tidak ada laporan korban jiwa akibat gigitan laba-laba jaring corong. Peneliti memastikan bahwa antivenom yang sama juga efektif untuk menangani gigitan spesies baru ini.
Laba-laba ini sering ditemukan di area permukiman, seperti garasi, kamar tidur, atau sudut rumah lainnya. Mereka aktif sepanjang November hingga April, masa ketika cuaca lebih hangat.
“Kadang-kadang mereka masuk ke dalam rumah saat berkeliaran pada malam hari,” tambah Christensen.
Meski tergolong mematikan, atraksinya dalam dunia penelitian membuat A. christenseni menjadi salah satu spesies penting untuk dipelajari lebih lanjut. Para ahli mengimbau masyarakat untuk tidak panik jika menemukannya di lingkungan sekitar, tetapi juga disarankan untuk menjaga jarak dan tidak menyentuhnya.
Penemuan ini menambah daftar keanekaragaman hayati Australia, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya penelitian dalam memahami spesies baru yang berpotensi membahayakan manusia. [TRA]

