RELUNG.ID – Calon Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) nomor urut dua, Eddy Santana Putra (ESP), mengkritik tajam kondisi ekonomi dan pembangunan di Sumsel dalam debat Pilgub Sumsel 2024.
Menurutnya, kemiskinan di Sumsel menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengelola kekayaan alam yang melimpah, hingga menjadikan Sumsel sebagai provinsi termiskin kedua di kawasan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
“Sumsel kaya, tapi masyarakatnya miskin. Tingkat kemiskinan mencapai 11,8 persen, artinya sekitar 1,046 juta masyarakat Sumsel hidup di bawah garis kemiskinan,” ujar Eddy pada debat pertama yang digelar Senin (28/10/2024).
ESP juga menyoroti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan tingkat pengangguran Sumsel yang dinilai tertinggal dibanding provinsi tetangga di Sumbagsel.
“IPM, kemiskinan, dan pengangguran di Sumsel merupakan yang tertinggi di kawasan ini. Padahal Sumsel punya potensi besar sebagai lumbung pangan dan energi,” tegasnya.
Selain itu, Eddy mengungkapkan keprihatinannya terhadap sistem pendidikan di Sumsel. Ia mengkritik pungutan liar (pungli) di sekolah-sekolah yang dinilai menghambat akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
“Di sektor pendidikan, pungli terjadi secara masif. Pendaftaran dan kepindahan siswa diwarnai dengan biaya tambahan yang dibebankan kepada orang tua,” jelasnya.
Eddy juga menyebut minimnya pembangunan monumental di Sumsel selama lima tahun terakhir sebagai salah satu penyebab stagnasi ekonomi. Ia berjanji akan mengupayakan kebijakan yang lebih efektif untuk menekan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan mencanangkan tagline ‘Sumsel Cerdas, Maju dan Terdepan, ‘Eddy menegaskan bahwa perbaikan di sektor pendidikan, ekonomi, dan sosial akan menjadi prioritas jika dirinya terpilih sebagai Gubernur Sumsel.[AYK]

