RELUNG.ID – Rencananya merger antara Nissan, Honda, dan Mitsubishi tak hanya mengguncang industri otomotif Jepang, tetapi juga secara global.
Meski demikian, merger ini disebut sebagai pengambil alihan terselubung Nissan oleh produsen otomotif Jelang yakni Honda.
Hal ini diungkapkan mantan bos Nissan-Renault, Carlos Ghosn dikutip dari YouTube CNBC, Jumat (27/12).
Carlon menggambarkan kesepakatan ini sebagai ‘pengambilalihan terselubung,’ dan meskipun kolaborasi ini dianggap sebagai merger, ia percaya bahwa Honda akan menjadi pihak yang mengambil keputusan.
“Nissan dalam mode panik, mencari seseorang untuk menyelamatkan mereka dari situasi ini karena mereka tidak dapat menghasilkan solusi sendiri,” katanya dalam video tersebut.
Dengan kondisi ini, Honda datang, sehingga mereka akan mendominasi kemitraan apapun yang akan dihasilkan. Menurutnya, kedatangan Honda ini tentunya tanpa keraguan dan akan berada di kursi pengemudi.
“Sangat menyedihkan untuk dilihat, Nissan yang telah memimpin selama 19 tahun kini mereka akan menjadi korban karena mereka diduplikasi total antara Nissan dan Honda,” terangnya.
Jika kesepakatan tercapai, sebuah perusahaan induk akan bertindak sebagai induk untuk kedua merek dan terdaftar di Bursa Efek Tokyo.
Honda akan mencalonkan sebagian besar anggota dewan perusahaan, berkat kapitalisasi pasarnya yang hampir empat kali lipat dari Nissan, dan grup ini dapat menjadi produsen mobil terbesar ketiga di dunia berdasarkan penjualan kendaraan, di belakang Toyota dan VW Group.
“Praktis tidak ada saling melengkapi di sini, yang berarti, jika mereka ingin bersinergi, hal itu akan dilakukan melalui pengurangan biaya, duplikasi rencana, duplikasi teknologi, dan kami tahu persis siapa yang akan membayar harga untuk itu. Itu akan menjadi mitra kecil, dan itu adalah Nissan,” tambahnya.
Sebelumnya, Bos Honda, Toshihiro Mibe menyebutkan jika merger tidak akan berjalan kecuali kedua merek tersebut dapat membuktikan bahwa mereka mampu berdiri di atas kedua kaki mereka sendiri.
Hal ini menjadi sorotan Carlos. Pasalnya, dia meragukan jika Nissan mampu membalikkan keadaan bahkan dengan rencana restrukturisasi yang diumumkan pada bulan November.
Sebagai bagian dari rencana ini, Nissan bertujuan untuk memangkas 9.000 pekerjaan dan mengurangi kapasitas produksi global sebesar 20 persen dalam upaya untuk menjadi lebih ramping dan lebih tangguh. (AAL)

