RELUNG.ID — Volume dan nilai ekspor nikel Indonesia serta barang daripadanya (HS 75) pada bulan Januari 2024 mencapai puncaknya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat volume ekspor mencapai 123,17 ribu ton dengan nilai sebesar 496,96 juta dolar AS (setara dengan sekitar Rp7,7 triliun).
Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa ekspor nikel menyumbang sebesar 2,60 persen dari total nilai ekspor nonmigas pada Januari 2024.
“Hal ini menunjukkan kontribusi yang signifikan dari sektor nikel terhadap ekspor nonmigas, ” kata dia.
Selain itu, BPS juga merinci nilai ekspor nonmigas secara keseluruhan sebesar 19,13 miliar dolar AS. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat nilai ekspor sebesar 0,37 miliar dolar AS, sektor pertambangan 3,68 miliar dolar AS, dan industri sektor pengolahan sebesar 15,08 miliar dolar AS.
“Meskipun demikian, terdapat penurunan nilai ekspor nonmigas secara bulanan, terutama pada sektor pertambangan yang mengalami penurunan sebesar 23,93 persen, ” kata dia.
Hal ini disebabkan oleh penurunan ekspor batu bara, bijih tembaga, bahan mineral lainnya, serta bijih seng.
Meskipun terjadi penurunan dalam beberapa sektor, Indonesia masih mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar 2,02 miliar dolar AS (setara dengan sekitar Rp31 triliun) pada bulan Januari 2024.
Meski angka ini menunjukkan surplus, namun terjadi penurunan dibandingkan dengan surplus pada Desember 2023 yang mencapai 3,29 miliar dolar AS (setara dengan sekitar Rp51 triliun).
“Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 45 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” tambah Amalia. Hal ini menunjukkan stabilitas ekonomi yang terjaga meskipun terdapat fluktuasi dalam nilai ekspor beberapa sektor.

