RELUNG.ID – Komoditas non-konvensional asal Sumatera Selatan mencatatkan capaian impresif di pasar ekspor. Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Sumsel memfasilitasi ekspor 32,06 ton paha kodok tujuan Prancis dengan nilai ekonomi mencapai Rp5,24 miliar.
Kepala Karantina Sumsel, Sri Endah Ekandari, mengungkapkan bahwa ekspor ini merupakan bagian dari lonjakan signifikan volume pengiriman paha kodok dalam dua tahun terakhir. “Pada 2023 ekspor tercatat 17,08 ton, dan sepanjang 2024 melonjak menjadi 86,4 ton. Artinya, terjadi peningkatan lebih dari 400 persen,” ujarnya, Sabtu (3/8).
Menurut Endah, kenaikan drastis tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar global, terutama Eropa, terhadap produk-produk asal Sumsel. Negara tujuan seperti Prancis diketahui memiliki standar keamanan pangan yang sangat ketat, termasuk penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) pada fasilitas pengolahan.
Sebelum diberangkatkan, setiap komoditas telah melalui pemeriksaan menyeluruh oleh petugas karantina, termasuk uji fisik, verifikasi dokumen, serta pengawasan fasilitas produksi. “Tindakan karantina kami pastikan cepat, tepat, dan profesional, sesuai prosedur internasional untuk menjamin mutu dan keamanan produk,” tegasnya.
Ekspor paha kodok bukan hanya berdampak ekonomi secara makro, tetapi juga memberi efek sosial langsung bagi masyarakat desa, terutama penangkap kodok rawa yang menjadi mata rantai pertama dalam komoditas ini. Kodok rawa banyak ditemukan di lahan basah dan persawahan, kemudian bagian paha diolah dan dibekukan untuk kebutuhan ekspor.
“Ini bentuk nyata kontribusi sektor pertanian dan perikanan terhadap devisa negara, sekaligus menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru di level akar rumput,” kata Endah.
Karantina Sumsel menyebut akan terus memperkuat sinergi lintas sektor agar ekspor komoditas unggulan daerah seperti paha kodok tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga mampu menjangkau lebih banyak negara.
“Dengan pemenuhan standar teknis dan kesehatan yang ketat, kami optimistis komoditas Sumsel semakin kompetitif di pasar global,” pungkasnya. (DSK)

