RELUNG.ID- Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tengah menjajaki peluang ekspor komoditas unik, yakni paha kodok ke Belgia.
Namun, rencana ekspor ini masih terkendala pada aspek kuota tangkap, yang bukan menjadi kewenangan BKHIT.
Kepala BKHIT Sumsel, drh. Sri Endah Ekandari, mengungkapkan bahwa potensi ekspor tersebut berasal dari kawasan seberang Pulau Kemaro, Palembang. Karena kodok termasuk hewan liar, maka perlu regulasi dan dukungan dari pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan pasokannya melalui sistem budidaya.
“Paha kodok ini kemarin ada permintaan ke Belgia. Namun terkendala kuota tangkap. Karena kodok termasuk satwa liar, maka ini perlu didorong ke arah **budidaya**. Harus ada peran pemda dan provinsi dalam pengembangannya,” kata Sri Endah dalam kegiatan *Coffee Morning* bersama jurnalis, Jumat (11/7/2025), di Aula BKHIT Sumsel, Palembang.
Ia menambahkan, meskipun kodok dikategorikan sebagai hewan liar, pengawasan kesehatannya tetap dilakukan ketat karena masuk dalam kelompok produk ikan dan harus bebas dari Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK) untuk lolos ekspor.
Sri Endah menjelaskan bahwa ekspor tidak hanya bergantung pada kualitas produk, namun juga pada ekosistem pendukung seperti rantai logistik, pembiayaan, dan koordinasi antarlembaga.
“Ekspor itu tidak hanya soal teknis, tapi juga pembiayaan, akses logistik, dan jumlah kontainer. Di Sumsel, misalnya, banyak produk seperti kopi atau kelapa yang siap ekspor, tapi karena belum memenuhi kuota kontainer, pengiriman jadi tertunda, bahkan hingga 12 hari. Ini tentu memengaruhi kualitas,” jelasnya.
BKHIT Sumsel, kata dia, mendorong kolaborasi dengan berbagai instansi, seperti Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, hingga OJK dan Dinas Koperasi. Bahkan pihaknya telah berdialog langsung dengan para petani kopi untuk mendorong tumbuhnya eksportir baru dari kalangan produsen lokal.
Tak hanya paha kodok, sejumlah komoditas lain seperti kopi, kelapa, sawit, karet, serta produk hewan dan ikan juga menjadi fokus pengawasan ekspor BKHIT Sumsel.
Sri Endah menyebut bahwa kelapa Sumsel juga banyak diminati negara seperti Tiongkok dan akan menjadi komoditas berikutnya yang akan difokuskan untuk ekspor.
“Kita bangun ekosistemnya satu per satu. Setelah kopi, kita akan dorong ekspor kelapa,” tambahnya.[DSK]

