RELUNG.ID – Kinerja ekspor Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang Januari–Oktober 2025 menunjukkan tren pelemahan, namun di balik kontraksi tersebut terselip kabar baik dari sektor yang justru melaju kuat di tengah tekanan global.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat nilai ekspor daerah ini mencapai US$5,33 miliar, turun 1,37% dibanding periode yang sama pada 2024. Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengatakan penurunan tersebut merupakan dampak kontraksi ganda pada sektor migas dan nonmigas.
“Ekspor migas turun cukup tajam sebesar 16,11%, sementara nonmigas melemah tipis 0,26%,” jelas Wahyu, Senin (8/12/2025).
Penurunan terbesar datang dari ekspor migas, yang kini hanya mencatat nilai US$318 juta, anjlok dari US$380 juta tahun lalu. Sementara nonmigas turun tipis dari US$5,03 miliar menjadi US$5,02 miliar.
Namun, di tengah angka yang menurun, sektor industri pengolahan muncul sebagai penopang utama kinerja ekspor Sumsel. Nilainya melonjak 8,89% menjadi US$2,9 miliar, naik signifikan dibanding tahun 2024 yang mencapai US$2,66 miliar.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mencuri perhatian dengan kenaikan tajam 46,05%, bernilai US$97,56 juta. Kenaikan ini dinilai menjadi sinyal bahwa komoditas primer kembali diminati pasar global.
Komoditas unggulan Sumsel turut mengalami tekanan. Bahan bakar mineral, termasuk batu bara, turun 12,19% secara tahunan. Pulp dari kayu juga ikut terkoreksi 0,55%.
Sebaliknya, karet dan produk olahannya melejit 18,60% yoy, menjadi satu-satunya komoditas besar yang menunjukkan tren pertumbuhan kuat di tengah kondisi pasar yang fluktuatif. Lonjakan ini diperkirakan terkait permintaan industri manufaktur global—khususnya otomotif dan sarung tangan medis—yang mulai pulih.
Tiongkok tetap menjadi mitra dagang terbesar bagi Sumsel dengan nilai ekspor mencapai US$2,1 miliar. Komoditas utama yang dikirim meliputi:
- Pulp dari kayu
- Batu bara dan lignit
- Karet serta produk turunannya

