RELUNG.ID – Kinerja ekspor Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan hasil menggembirakan sepanjang Januari hingga Juni 2025. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, nilai ekspor daerah ini mencapai US$3,197 miliar, atau tumbuh 8,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menyebut pertumbuhan ini terutama ditopang oleh ekspor sektor nonmigas yang mengalami lonjakan signifikan.
“Ekspor nonmigas mendominasi dengan nilai mencapai US$3.006,92 juta atau tumbuh 11,05 persen dibanding tahun sebelumnya,” ujar Wahyu, Senin (4/8/2025).
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dalam kelompok nonmigas, yaitu sebesar 103,11 persen dengan nilai ekspor US$48,33 juta. Disusul oleh sektor industri pengolahan yang juga mencatat pertumbuhan positif 20,30 persen dengan nilai US$1.750,43 juta.
Namun, tidak semua sektor mencatatkan hasil positif. Ekspor pertambangan, yang selama ini menjadi andalan Sumsel, justru mengalami sedikit koreksi. Nilainya tercatat sebesar US$1.208,16 juta, turun 1,67 persen dibanding tahun lalu.
Secara komoditas, batu bara masih menjadi primadona namun mencatatkan penurunan ekspor sebesar 1,67 persen. Sebaliknya, karet dan produk karet tumbuh pesat sebesar 25,69 persen, diikuti pulp dari kayu yang juga naik 10,41 persen.
Meski kinerja semester pertama cukup solid, ekspor Sumsel pada bulan Juni 2025 justru mengalami penurunan tajam. Total ekspor pada bulan tersebut tercatat hanya US$464,33 juta, merosot 25,81 persen dibandingkan Juni tahun lalu.
“Penurunan itu dipengaruhi oleh turunnya ekspor baik migas maupun nonmigas,” jelas Wahyu.
Dari sisi negara tujuan, China tetap menjadi mitra dagang terbesar Sumsel, dengan total ekspor mencapai US$1.206 juta. Komoditas utama yang diekspor ke Negeri Tirai Bambu adalah pulp dari kayu, batu bara dan lignit, serta karet dan produk turunannya. Disusul India dengan US$318,49 juta, serta Vietnam sebesar US$251,09 juta.[THQ]

